ihsanjarot

Terkunci

Leave a Comment
Belenggu. Rantai melingkar, pada raga, pada jiwa. Tak berkutik, merancukan kalut dan sendu sampai rata. Sampai itu semua larut dalam udara, dan kuhirup dalam. Hingga paru-paru sesak, tak menyisakan ruang yang cukup tuk beristirahat. Lalu sering kali bahkan tiap hari atau beberapa jam, itu semua menjadi padat dan menjelma nyata, kau.

Pandangku tertahan oleh titik yang tak kumengerti, bukan hanya satu. Titik-titik yang ada saat gerakmu, diammu, bangun dan tidurmu. Mengunci rapat setiap gerak berontak. Kenapa? Bahkan tatapmu jelas dihadapku. Aku terkunci, padamu.

Kaki terdiam seolah disemen sampai dalam. Dan setiap sudut-sudut tubuhku terlupa akan kejut yang diajarkan waktu. Kau mengunciku di sebuah ruang tanpa siapa-siapa lagi. Hanya aku yang membatu, dan kau yang lincah menari di hadapku.



Sendi dikunci,



hati di mati.



-ihsanjarot 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar