ihsanjarot

Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan


Sebuah Catatan Romansa


I
Tambun

Aku menemukan sepasang mata
dengan tatap yang biasa,
tak seperti mataku yang merah muda
sebab terkena sebuah asa yang nyala.

Segalanya harus kutahan,
sebab waktu kutahu tak melulu
berpegang pada orang-orang yang sedang terbakar
harus tetap menyisihkan rasa sabar.

Bukankah sebuah perasaan tak bisa diburu-buru?
Ini bukan tentang memaksakan sesuatu,
namun menyalakan hal lain
yang mungkin nantinya menggebu
tidak hanya untukku.

II
Bekasi

Kita terjebak dalam sebuah drama romansa
yang tak pernah tahu ujungnya.
Duduk di antara poster-poster film yang bisu
dengan sebuah kecemasan tentang malam
yang semakin mesra dengan keadaan.

Aku terjebak dalam kegelisahanmu
dalam sebuah kelambatan dan ketidakpastian,
sebab waktu yang memberikan babak tambahan.
Aku harus berempati atau mensyukuri?


 III
Membelah Jakarta

Angin bertiup dingin di wajahku,
sementara dalam saku jaket
menyala sebuah lilin kecil
menjadi asa, menjadi rasa
menjadi semua doa-doa baik
yang kuwiridkan dalam setiap putaran roda.

Dan dalam sebuah peristirahatan sementara
dalam segelas teh yang terlalu membara,
kau bersemayam dalam jaketku,
sebab tubuhku kebas oleh dingin kala itu.

IV
Kalideres

Sebuah kesialan -yang menjadi keuntungan.
Aku tersenyum dalam hati,

"Terima kasih, Tuhan, atas sebuah kesialan malam ini."

Aku larut dalam lautan kebahagian,
tubuhku bak seonggok tembok kokoh
yang menopang segala hal-hal yang menyenangkan.
Sepasang mata tertutup dan aku meninggalkan segala kantuk.
Sebuah rasa yang tak pernah disangka,
dan baratnya Jakarta, menjadi sebuah romansa yang sekejap
menjadi hal yang melekat di kepala.

V
Tangerang

Aku berhenti di tempat yang tak asing,
melepas sebuah kebahagiaan pada tempat tidurnya
dari kaca spion,
aku melihat sebuah pintu tertutup dengan merdu.
Aku pulang dalam kebahagiaan,
dan dalam jaketku, bersemayam aroma
yang kudoakan tak mempan hilang dalam cucian.

 



keberangkatan

Lalu melaju perlahan, menuju pemberhentian pertama.

"mari sejenak meninggalkan keramaian ini,
menuju sesuatu yang sunyi,
menuju awal, di mana aku bisa
berdiri kini."

Pagi yang diselimuti dingin sebab sedari malam hujan mengguyur kota, meninggalkan sisa-sisa yang membuat tubuhku melekat dengan selimut. Helaan napas panjang, apakah aku telah lelah?

Entahlah.

Sebuah keberangkatan yang sama, menuju tempat yang sama, dan orang-orang yang sama, lalu luka?

Pintu bis terbuka lebar, bis yang membawaku menuju area perbatasan kota ini, yang selalu sibuk dan menjenuhkan. Aku duduk di salah satu kursi sebelah kiri, sendiri, dengan ransel yang dihuni oleh dua atau tiga baju ganti, mungkin baju bapak sudah bisa kupakai kini. Pintu telah tertutup, roda bis mulai berputar, melaju perlahan dengan sebuah pagi yang selalu ramai di kota ini.

Aku berangkat.

pemberhentian pertama

Perbatasan kota selalu ramai, bukan hanya di kota ini, namun di kota-kota besar pasti seperti ini. Namun perbatasan kota ini memiliki banyak kenangan untukku, tempat pertama yang kujumpa saat aku berangkat dari kampung halaman, area transisi, area di mana aku melihat banyak orang dengan berbagai memorinya.

"untuk mereka yang pergi
yang mencari dan menentukan nasibnya sendiri.
untuk mereka yang pulang,
menagih rindu -atau kalah?"

Aku melihat mereka yang sedang pergi, meninggalkan kampung halaman, tempat dan orang-orang yang nyaman, untuk mengejar cita-cita, nasib, yang nantinya bisa mereka bawa dan dengan bangga mempersembahkannya pada keluarga. Aku juga melihat mereka yang sedang pulang, sorot mata yang tak sabar menemui orang-orang yang menunggu sebuah kepulangan, untuk menikmati waktu libur, atau memang sengaja menyempatkan diri untuk menghabisi rindunya, dan tak jarang, sebuah kepulangan terjadi karena mereka yang menyerah, kalah, atau hal-hal buruk lainnya, yang memaksa mereka untuk kembali pada titik awal. Kota memang keras.

perjalanan panjang

Sebuah bis berhenti, terpampang di sana sebuah kota yang kuhafal sedari kecil, aaah, aku pulang -entah untuk yang keberapa kalinya. Aku menaiki bis, melihat kanan kiri, mencoba mencari tempat yang nyaman untuk sebuah perjalanan panjang, kali ini aku menduduki bagian kanan kursi bis, aku ingin terlelap sampai nantinya dibangunkan oleh rem bis yang benar-benar menurunkanku di tempat yang sangat kuhafal detailnya.

Aku terjaga sebab manuver bis sangat terasa, kelok kanan, kelok kiri, menanjak dan menurun. Aku melihat sisi kiri kanan jalanan ini sudah teduh, dihimpit bukit-bukit yang seakan akan melahap bis ini jika cuaca buruk. Namun aku senang dengan jalanan ini, seperti tak ada celah untuk rasa bosan, berapa kali pun kupulang, tak pernah terbersit sebuah bosan di kepalaku.

"pesawahan yang bertumpuk,
menjadi piramida yang indah,
di sisi lain, dedaunan dan lumut itu merambat
memeluk dinding tanah yang tinggi.
aku tak pernah bosan dengan apa yang kulihat di sini."

sebuah awal

Kakiku menapaki sebuah kenangan, aku berhenti tepat di mana aku terlahir, meski bangunannya sudah banyak direnovasi, namun di mataku, rumah itu masihlah bilik bambu dengan pohon delima di teras depan rumah, dan terracotta. 

Beberapa pasang mata menolehku, tukang ojek, orang-orang yang sedang di warung, mereka menyelediku dengan tatapan hati-hati, setelah itu mereka tersenyum dan menyapa dengan nama kecilku. Aku hanya tersenyum balik pada mereka sambil sesekali mengingat nama-nama yang kulupa -tidak dengan rupa.

Aku berjalan menuju sebuah pintu, mengucap salam, dan aku mendapat senyuman yang sudah kulihat dari kecil. Beberapa orang rumah yang sedang berada di belakang rumah berjalan kecil dan menolehku. Aku benar-benar pulang.

"sehabis magrib yang menjadi sunyi,
dipenuhi jangkrik yang bernyanyi.
waktu di sini berjalan sangat lambat,
mengembalikan memori-memori tentang sebuah awal,
tentang aku yang kulihat di cermin kini."


"dan mereka bertumpuk
dalam sebuah tempat terbuka
dengan asap yang mengelilingi muka,
melepas segala beban dan lelah,
sementara, sementara saja,
sebelum jam menunjukan akhir
dari sebuah siang yang singkat di sana"


***

Lalu-Lalang

Sudirman, Jakarta
7 November 2022

Hari-hari selalu bergemuruh di kota ini, entah awal, tengah atau akhir dalam sebuah pekan, kota yang tak pernah tertidur dengan nyenyak, dipenuhi hutan beton, jalanan yang mesra dengan pantat-pantat merah dari kendaraan dan klakson yang menyanyi dengan merdu di setiap jalanan.

Aku menjajakan kakiku siang ini di ibu kota, yang menyapa pertama kali adalah semilir angin yang kering dan menjadi ibu bagi keringatku yang jarang kujumpa dari tempat asalku berada. Jakarta, sebuah kota impian, yang dipenuhi cita-cita dan gemerlap yang menyajikan kemewahan (atau kesengsaraan?).

Aku di sini bukan untuk sebuah wisata, karena sampai sekarang tidak pernah terlintas di kepalaku bahwa Jakarta menjadi tujuanku untuk menghabiskan waktu dan menikmati akhir pekan atau sebuah liburan. Aku ke sini karena sebuah tugas pekerjaan (sesuatu yang harus kulakukan).

***
Jalanan selalu sibuk dengan biasa, padahal jarak dari tempatku tiba ke tujuan tidaklah jauh, hanya saja terik dan lalu lalang kesibukan mengurungkan niat kakiku untuk melakukan perjalanan seperti ritualku di kota tempatku tinggal. Semuanya terasa melelahkan sebelum aku melakukan apa-apa di sini.

Aku tiba di depan sebuah geduh kaca yang menjulang dan dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan. Aku menghela napas panjang, tidakkah mereka merasakan kelelahan seperti aku sekarang? Entahlah, aku memasuki lift dan beberapa saat tiba di sebuah lantai yang sudah bisa melihat bangunan-bangunan di bawahnya.


Makan Siang

Sejauh mataku memandang, aku tak melihat kaki-kaki lima atau warung makan yang di etalasenya menyajikan makanan-makanan yang menggairahkan dan akrab dengan lambungku, semuanya terlihat menguras saku, dengan lampu-lampu kuning yang menyoroti setiap menu sehingga menjadi meriah dan mengahsut rasa lapar yang lahir karena mataku. Kulihat sekitar, mereka yang bekerja di sini satu persatu (dan lalu berkerumun) turun dari lantai-lantai mereka tinggal, menjumpai pahlawan mereka-ojek daring, yang mengantarkan makanan yang berasal dari antah berantah, yang pasti bukan dari radius 50meter dari tempatku berdiri. Lantas, setelah mereka membawa makanannya, mereka kembali masuk, menaiki gedung-gedung dengan akses yang merepotkan.

Di mana mereka akan memakan semua itu?

Pertanyaan itu muncul setelah kuperhatikan orang-orang di sini, mungkin mereka makan di pantry di mana mereka bekerja, atau mungkin di depan meja kerja? Entahlah, namun memikirkan itu membuatku serasa ingin mengasihani masakan dan juga tangan-tangan para koki atau siapapun yang memasak makanan yang mereka makan, sebab bagiku, kecewalah mereka yang memakan makanan tanpa benar-benar khidmat menikmati setiap suapnya.

Oase

Aku melihat kehidupan yang membuatku senang, di sebelah gedung itu, aku melihat papan dengan tulisan smoking area, dan aku tersenyum sumringah, melihat banyak orang di sana yang sedang berekerumun menikmati setiap embus asap kretek yang mereka hisap dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Aku melihatnya, dari setiap yang mereka embuskan bukan sekadar asap yang mereka lepas, namun beban, rasa lelah dan apapun yang mereka gundahkan, mungkin komplainan dari atasan, atau tugas-tugas mereka yang berat dan melelahkan, namun, untuk apapun itu, aku merasa lega, sebab aku sekarang melihat manusia yang seperti biasa.

Aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, membaur dengan mereka yang kulihat sedang dalam fantasinya masing-masing.

Embusan pertama;
untuk keterasingan ini, untuk kalian yang sedang menikmati singkatnya jam makan siang namun dengan khidmat merayakannya.

Embusan kedua;
untuk kalian yang hebat, yang mungkin tak bisa kutiru atau terbiasa dengan keadaan yang semrawut dan hidup di kota yang sibuk ini.

Embusan ketiga;
untuk kita yang berada dalam oase ini, melupakan sejenak kesibukan dan kewajiban yang kutahu sangat berat hinggap di punggung ini.

Embusan-embusan lain;
untuk waktu yang singkat namun tetap bisa dirayakan dengan normal dan wajar, yang menjauhkan kita sejenak dalam hiruk pikuk keseharian yang terus menerus menuntut kita untuk menjadi sesuatu yang baik dan sempurna.

Prolog

Dalam perjalanan singkatku hari ini, aku menemukan sebuah tempat kecil yang memberikan ruang kehidupan bagi mereka yang tiap harinya bertarung dengan kehidupan dan kutahu tidak sedikit yang mereka korbankan, yang bisa mereka lakukan hanyalah terus menikmati hal-hal yang menjemukan (bagiku). Aku hanya berdoa untuk mereka, untuk terus menikmatinya sampai mungkin di titik mereka lelah atau tersadar dengan apap yang lebih bermakna dari ini semua. Untuk kalian yang bersamaku saat itu, semoga kalian bisa lebih menikmati apapun yang menjadi pilihan.


Apa ini baik-baik saja? Saat kita kembali membicarakan apapun seolah biasa saja. Apa aku baik-baik saja? Apa kau baik-baik saja?

***

Aku merasa janggal beberapa waktu ini, ada rasa senang yang muncul, ada rasa khawatir dan takut. Kau tiba dan kita kembali saling sapa seperti tak terjadi apa-apa, bahkan kita membicarakan orang-orang yang memasuki radar dengan tenang (kelihatannya). Ini terasa aneh bagiku.


Dengan seperti ini, aku tahu, ada harapan lagi di diriku yang juga tiba, namun aku takut ini hanya akan menjadi sebuah pesakitan lagi. Di sisi lain, aku tak bisa menahan senang saat kau tiba dan sepertinya aku memang bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan seseorang. Meski tak ada sebuah temu yang nyata, namun apa yang kurasakan selalu nyata. Dan ingin sebenarnya aku menanyakan langsung padamu perihal ini. Aku sudah lelah dengan berharap, tapi aku secara sadar tak sadar malah menumbuhkan harap.


Sampai saat ini aku masih bisa berdiri dalam keabu-abuan ini, namun aku perlu sebuah warna yang pasti. Hitam atau putih. Dan tahukah kau, terkadang aku merasa sesak saat kau membicarakan orang-orang selain kita saat ini, aku memang lemah dalam membuang sebuah perasaan. Tapi aku tidak ingin lebih lama mendiami sebuah kemungkinan.


Di mana aku sekarang?

 

jokes or hopes?


***

Satu kakiku sudah menapaki hal baru, dan saat kakiku yang satunya hendak lepas landas, tiba-tiba tertarik lagi oleh hal yang sama. Kau. Tiba-tiba kau datang dan kita berkomunikasi dengan lancar seperti biasanya, seolah bisa saling melupakan perihal hal-hal yang terjadi sebelum ini. Apa maumu?


Ini hal yang aneh bagiku, aku berada di ambang sebuah senang dan jengkel. Dan aku tak tahu apa kau juga berada di antara itu? Bukankah ini terlalu aneh saat beberapa minggu yang lalu kau bilang untuk tidak mencarimu dan berhenti saja, namun sekarang tiba-tiba kau datang dengan mata dan senyuman yang menyenangkan namun menyebalkan.


Apa yang ingin kau beri sekarang? Harapan atau candaan?


Hi, kali ini aku ingin bercerita tentang perpisahan. Ini menyedihkan tapi aku harus menjalaninya, dunia tidak berpusat padaku kan? Jadi aku tak bisa banyak melakukan apa-apa untuk sekarang. Hidup itu tentang perjalanan dan kejutan, dan kadang sesuatu yang datang itu tak selalu hal baik dan menyenangkan, tapi kita harus menerimanya.

***

Kemarin aku dapat sebuah surel, aku harus meninggalkan Bandung. Ah, ini berat. Bandung bagiku sudah kuanggap tempat pulang, saat kota asalku tak bisa memberikan sebuah damai yang kumau, Bandung memberikan banyak hal baik padaku. Tapi jika aku terus di sini pun bukan pilihan baik, setidaknya untuk sekarang.

Hari di mana aku harus pergi dari kota ini pasti akan datang, dan sialnya adalah beberapa hari ke depan aku harus pergi dari sini, aku mengingat sebuah lagu The Panas Dalam Bank,

Dan Bandung bagiku bukan cuma
urusan wilayah belaka
Lebih jauh dari itu
melibatkan perasaan
yang bersamaku ketika sunyi

Ya, Bandung bagiku bukan hanya sebuah kota dan tempat. Di sini banyak kutemukan teman, kenalan, perasaan (baik dan buruknya). Bandung sudah memberikan segalanya untukku, dia tak pernah minta balasan, dia selalu menghadirkan keajaiban.

Aku mulai hidup di sini sejak 2014. Dan aku ingat betul, sebelum tahun itu, ada seseorang pernah bilang padaku, "Jika kau dan Bandung sudah bertemu dalam jangka waktu yang cukup, Kau akan jatuh cinta dengan Bandung." Dan saat itu aku menjawab dengan arogan, "Aku takkan pernah jatuh cinta dengan Bandung, lihat saja!" Dan ternyata aku salah, aku sangat jatuh cinta dengan Bandung.

Banyak hal terjadi di sini, cinta, tawa, nangis, marah dan segala perasaan lainnya. Di sini aku temukan bahagia dan sedihku, di setiap jalan di pusat kota Bandung, aku bisa menemukan diriku sendiri dengan segala sejarahnya. Dipatiukur, Dago, Asia-Afrika, Tamansari, Braga dan banyak lagi tempat yang magis juga unik.

Hari esok aku harus meninggalkan Bandungku, ini sangat berat, sangat berat. Tapi aku juga tidak ingin aku hidup dalam kenyamanan ini, aku perlu rindu dan jarak untuk Bandungku.

Terima kasih, sebab kau (Bandungku), aku belajar untuk hidup. Aku akan kembali, entah kapan, tapi aku pasti akan menemuimu lagi. Sampai jumpa, Bandungku.


Kesedihan adalah hal yang harus dijujurkan, bukan untuk disamarkan atau bahkan dihalangi. Rayakanlah kesedihan sebagaimana merayakan perasaan-perasaan kita yang lain.

***

Hi, sudah lama aku tak menjamah sebagian diriku di blog ini. Apa kabar kau, siapapun yang membaca tulisanku ini? Semoga dalam keadaab yang diharapkan.

Kali ini aku ingin menulis perihal waktu, perayaan dan kesedihan. Malam ini aku menangis, sebab ada sesuatu yang membawaku untuk kembali ke titik di mana aku seharusnya menangis. Aku takkan menceritakan perihal penyebab aku menangis, aku hanya akan membicarakan tentang kenapa kita harus merayakan kesedihan.

***

Waktu. Suatu hal yang biasa perihal waktu. Namun aku selalu heran, kenapa ada beberapa orang yang ingin memutarnya, entah untuk kembali atau untuk mengintip masa depan. Kawanku pernah bertanya,

"Jika kita bisa memutar waktu, ke mana kau akan pergi? Masa lalu atau masa depan? Dan jika kau memilih masa lalu, adakah hal yang ingin kau ubah untuk keadaanmu sekarang?"

Aku lama berpikir, dan memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana, meskipun nantinya bisa untuk menjadi time traveller, namun aku takkan ke mana-mana.

Aku tak ingin pergi ke masa depan hanya untuk mengintip jadi apa nanti aku di sana. Menurutku itu hanya melahirkan ketakutan-ketakutan yang lebih besar dan kau tak menikmati waktu sekarang. Masa depan, biarlah jadi kejutan. Dan aku tak ingin kembali ke masa lalu dan memperbaikinya, aku tak ingin ada yang berubah dari aku yang sekarang karena aku cukup menikmatinya.

Ok, dan tentang keterkaitan waktu dan kesedihan. Ini dua hal yang berbeda namun sangat terkait. Entahlah untukmu, namun untukku waktu adalah hal yang bengis. Sebab waktu kadang membawa hal yang sudah kita buang jauh namun dikembalikan begitu saja. Dan hal yang selalu dibawanya adalah kesedihan. Kita seolah sesuatu yang tiba-tiba tertiban akan kesedihan yang lalu.

Brak!

Mungkin akan terdengar demikian jika hal-hal yang dikembalikan pada kita oleh waktu berbentuk wujud.

***

Kesedihan adalah hal yang harus dirayakan menurutku. Bukan untuk dimusnahkan atau ditolak mentah-mentah. Jika ada momen yang mengharuskan kita untuk bersedih, maka bersedihlah. Jangan berpura-pura atau mengabaikannya. Nikmatilah setiap dari potongan kesedihan yang kau miliki. Tentang apapun itu.

Aku sangat banyak menulis dengan tema kesedihan dalam banyak karya tulisku. Sebab, menurutku kesedihan harus diabadikan yang nantinya jadi pengingat saat kita menghadapi situasi yang sama, atau malah untuk ditertawakan di kemudian hari sebab kita bersedih akan hal yang menurut kita lucu nantinya.

***

Malam ini, siapapun kau, di mana pun kau, jika sedang bersedih, bersedihlah, menangislah. Kau baik-baik saja untuk tidak baik-baik saja.



Bandung,
13 September 2020

Pernahkah kau merasa menjadi seorang yang asing? Kesepian? Seolah kau tidak dapat menyatu. Jika kau mencoba untuk membaur, kau kehilangan dirimu dan jika kau menjadi dirimu kau tidak menemukan siapa-siapa. Apa yang kau rasakan? Aku sedang merasakannya saat menulis catatan ini.

Aku menjadi seorang yang asing di sini, di tempatku lahir. Kadang aku dijadikan tamu, kadang aku diperlakukan tidak sama seperti orang lain yang kukenal, dan seringnya, aku merasa kesepian.

Saat menulis ini, aku banyak mengulangi lagu Sting 'Englishman in New York.'

I'm an alien
I'm a legal alien
I'm a Englishman in New York

Ya, aku seolah alien di planet bumi. Menjadi asing dan sepi. Kau tahu? Kadang aku tak bisa membedakan sebuah pulang dan pergi. Hal yang sangat tipis bagiku. Sampai sekarang.
Hai, selamat dini hari.

Hari ini, saya hanya akan bercerita mengenai apa yang saya lakukan di dunia nyata untuk beberapa hari terakhir.
Baiklah, semoga kalian menikmatinya.

Saya sedang sakit hati. Sangat sakit hati.
Itu yang sedang saya rasakan untuk beberapa hari ini. Saya sedang memulai sesuatu yang menyangkut perasaan, namun di lain pihak sesuatau itu tidak pernah dan tidak akan terjadi. Saya merasa tidak memulai apa-apa untuk ini semua.

Awalnya saya kaget mendengar berita tersebut dari seorang teman yang sangat baik. Sangat kaget sampai merasa tak percaya dengan yang memang benar-benar terjadi.

Saya ingin bertanya pada kalian,
"Apakah mengambil keputusan besar memerlukan waktu yang sedikit?"
Mungkin dari kalian ada yang berpendapat tidak atau juga iya.
Tapi untuk hal ini, menurut saya sendiri adalah tidak. Mengambil sebuah keputusan besar apalagi terkait dengan masa depan menurut saya perlu lebih banyak waktu. Setidaknya untuk mendengarkan pendapat dari orang-orang terdekat.

Apa saya salah bila masih berharap?
Untuk saat ini dan pikiran beberapa akhir ini saya merasa tidak ada salahnya. Tapi jika dilihat dari kenyataannya dan beberapa masukan dari orang-orang terdekat saya, untuk apa berharap? Toh ini semua sudah pasti. Yang tidak pasti sendiri hanyalah saya. Hanya saya.

Saya sedang dilanda kekacauan. Pikiran dan perasaan. Saya bisa gila dengan ini semua.

Mungkin itu yang ingin saya bagi pada kalian sekarang. Namun, saya mencoba mengakali ini semua dengan beberapa hal, membuat kerajinan, menggambar dan satu lagi. Saya sedang menulis beberapa puisi untuk dijadikan sebuah buku. Itu target saya tahun kemarin, sebenarnya sudah ada beberapa yang saya tulis. Namun karena hal ini terjadi, saya merubah semua konsep. Jadinya saya ulang dari awal. Doakan saja agar segera terjadi. Dan jangan lupa, jika sudah jadi harus beli. Saya usahakan agar pantas dinikmati untuk kalian.

Sekian dari saya.



ihsanjarot


Yo, baru lagi saya utak atik blog ini, meskipun sampai sekarang belum terpikirkan tulisan yang nantinya saya tulis ini akan bermanfaat atau tidak. Hehehe

Di sini saya hanya akan bercerita mengenai keseharian saya yang dirasa sudah sampai titik di mana semua terasa membosankan. Kuliah, kehidupan di tempat rantau, pertemanan, atau bahkan percintaan (untuk kasus terakhir jangan dibahas, haha)

Untuk masalah kuliah, saya merasa bosan entah kenapa, mungkin karena saya harus mengulang satu tahun, hahaha, tapi mengulang satu tahun itu tidak bermakna apa-apa, ada hal yang menjadi alasan kenapa saya mengulang satu tahun, saya bilang pada kawan-kawan dan juga dosen bahwa itu karena sakit. Namun ada hal lain yang tidak bisa saya ceritakan pada mereka, pun di sini saya tidak ingin membahas itu. Intinya saya terima mengulang satu tahun, itu adalah resiko yang menurut saya kecil dari pada hal lain yang akan terjadi.

Untuk masalah pertemanan mungkin karena terkait masalah kuliah. Ya, ketika teman seangkatan sedang mengerjakan skripsi/tugas akhir di mana-mana (tempat nongkrong, kosan, kampus dll) saya merasa ada sedikit kecemburuan. Terkadang itu membuat saya jenuh, kadang saya melarikan diri dari itu. Saya suka nongkrong sendiri di taman (saya suka nongkrong di taman Dago/ perempatan Dago, depan sebuah gereja), atau menulis sesuatu (puisi, cerpen, atau blog).

Untuk masalah percintaan (dibahas juga ternyata), saya sedang mencintai seseorang yang tidak ada. Ya, dia itu tidak ada di sekitar saya, dia hanya mengambang di kepala, mimpi dan imajinasi (tidak berpikiran kotor). Namun untuk masalah ini, saya sedang menulis beberapa surat yang entah nantinya surat itu saya kirim atau tidak, sampai atau tidak, sekadar pelampiasan perasaan saya. Saya juga sedang mengerjakan sebuah buku kumpulan puisi (doakan tahun ini selesai, Amin) yang isinya tentang perjalanan saya sampai mencintai sosok tersebut.


***
Selain itu, saya sudah merencanakan sebuah usaha yang bidangnya tak jauh dari apa yang saya pelajari selama ini. Semoga terlaksana, amin. 

Mungkin itu saja yang saya ingin tuliskan sekarang, semoga saya bisa mengisi blog ini lebih rutin dan menghasilkan beberapa tulisan yang menarik dan menyenangkan untuk dibaca, yo, salam hangat dari saya untuk kalian yang membaca tulisan ini.
Selamat waktumu untuk kalian, pembaca, di sini sudah hampir pukul sebelas siang.

Sudah lama aku tak menjamah blogku karena beberapa kendala, malas yang menggunung, jaringan internet dan kepalaku yang tak bisa diajak kerja sama.

Untuk beberapa tulisan ke depan, saya akan membagikan catatan atau jurnal tentang kisah saya yang saya alami setiap hari, meski saya takkan mempostingnya setiap hari karena kisah saya takkan menarik setiap harinya, jadi ini hanya beberapa catatan yang saya anggap menarik. Jadi selamat menikmati. :)

***

6 Desember 2017

Senja tidak tenggelam pada lautan. Di sini senja pulang pada bukit, gedung dan bangunan-bangunan kolonial.

Kukira senja di sini mulai terlupakan, karena kebanyakan orang hanya sibuk pada jalanan dan sebuah pulang setiap harinya.

Kaca mobil mereka gelap, mempercepat datangnya malam. Yang mereka harapkan adalah punahnya semua lampu merah.

Suasana senja di sini indah sebenarnya, sayang hanya saja jarang diperhatikan.

Bandung bagi sebagian besar orang adalah kota metropolitan, berjajar toko-toko modern di setiap jalanan kota. Di jalan Ir. H. Juanda atau yang terkenal dengan jalan Dago, memaparkan beberapa toko pakaian. Bukan seperti di Pasar Baru atau Pasar Gede Bage, di sini, pakaian dipajang dengan elegan, menawan, dan mencuri perhatian, strategi untuk menaikan penjualan.

Bandung memang terkenal dengan beberpa julukan, salaha satunya kota Mode, mungkin salah satunya karena itu. Namun bagiku sendiri Bandung tetaplah Bandung. Sebuah kota biasa karena ada senja dan arukina, yang istimewa menurutku di sini adalah lansekapnya yang menarik, gedung-gedung dari masa lalu yang masih berdiri, juga suasana yang menyenangkan.

Tapi, kupikir orang-orang sekarang yang menganggap Bandung adalah kota besar, kota untuk tujuan wisata, kota untuk melepas penat kepala mereka yang datang dari luar kota, terutama Jakarta. Dan oleh sebab itu, menurutku ada sebagian dari Bandung yang tersakiti, misalnya senja tadi.

Ya, senja bernasib buruk untuk beberapa saat. Ia ditelantarkan orang-orang yang sibuk dengan jalanan, liburan, hiburan dan orang-orang yang bergegas pulang. Saya yang menulis catatan ini berdiam di taman Dago yang baru selesai direnovasi beberapa waktu lalu, tepat di sudut perempatan Dago, melihat mereka yang menghabiskan waktunya di aspal dan lampu merah, senandung klakson yang marah, dan pantat-pantat kendaraan yang memerah, dan trotoar yang sepi dari pejalan kaki.

Saya sering menghabiskan waktu untuk berjalan kaki di Bandung, dan karena jalanan Dago dekat dengan markas saya di Bandung, jadi mungkin jalanan ini yang kukenali betul setiap harinya. Dan mungkin menurut saya, jika jalanan itu diberikan mulut untuk berbicara, ia akan berkata:

"Hei, lihat itu senja, lihat itu momen di mana malam yang sedang lahir dan siang yang sekarat, nikmatilah, bukan berkumpul di lampu merah dengan amarah."

Mungkin itu saja untuk kali ini, ada beberapa catatan yang belum saya posting di halaman blog ini, namun sudah ada pad buku harian, maaf bila kurang menarik atau tidak menarik sama sekali, saya hanya ingin berbagi kisah saya di hsetiap hari. Sampai jumpa kembali.
Hampir empat bulan berandaku berdebu, tak pernah tersapu atau ditata dengan beberapa dekorasi seperti puisi atau kisah-kisah lama. 


Kangen. Itu hal yang kurasakan, aku tak sebaik kenalanku, Larung Limaluka. Yang menata kangen dengan sedemikian rupa, hingga cantik, hingga tak ingin melepaskan mata dari tulisannya. Namun kangen milik siapa saja bukan? Jawabannya ada dua; bisa saja, tidak mungkin.


Bisa saja bila kita melihat dari pandangan kesetaraan, tiap orang butuh rasa kangen. Karena dengan itu seseorang bisa tahu apa itu kenangan, kisah dan hal-hal kecil yang biasanya terlupakan berubah menjadi besar dan mengangenkan.

Tidak mungkin. Tidak mungkin dalam beberapa kisah, aku tidak bisa menjelaskan dengan baik, namun contohnya adalah aku sekarang. Merindukan seseorang tanpa pernah seseorang itu rindukan. Apa kalian pernah mengalaminya? Jika pernah, beruntunglah kalian telah mengalaminya.

Sebenarnya, bukan kali ini saja aku mengalaminya. Merindukan sesuatu yang kabur, tidak jelas, dan hanya sebelah pihak saja kangen ini berdiam. Aku sudah  beberapa kali dengan nasib ini, tapi yang kini menurutku yang paling menarik, dan paling sakit.


Pertanyaan selanjutnya, apa kalian percaya dengan perasaan tanpa menatap matanya dengan nyata?Dan apakah aku berhak atas rasa kangen ini? Sering sekali pertanyaan ini mampir -- dengan jelas atau diam-diam, sebelum aku terlelap atau melamunkan banyak hal.


Ah, sudah hampir tiga pagi, pertanyaan ini tak terjawab (lagi) sekarang, namun pasti ada jawabnya bukan? Sekarang, sudahi saja percakapan ini, percakapan untuk memenuhi rasa kangenku akan beranda ini. Selamat pagi, aku kembali.

NB semoga kau menjadi salah satu yang membaca tulisan ini. Aku rindu kau dengan bentuk apa pun.
Tiga pagi, kata beberapa sumber saat ini, waktu pergantian malam   dan pagi adalah di mana udara paling baik untuk dihirup, karena mungkin oksigen-oksigen baru dilahirkan oleh tanaman, asap-asap knalpot yang belum bangun, atau pun pabrik yang mencetak bibit-bibit polusi. Tapi saya tak terlalu mementingkan itu, kamar saya penuh dengan asap rokok, karena butuh energi (sugesti) untuk mengerjakan sebuah persentasi yang ditugaskan teman.


Oke, di sini saya takkan bahas udara atau pun persentasi itu, hanya sekadar menulis catatan harian dari malam kemarin sampai sekarang.



Jadi, nikmatilah...





Malam kemarin, saya terlelap sebelum tengah malam, tidak seperti biasanya. Sebenarnya saya yang memaksa lelap, karena nalar tak kuat memikirkan hal-hal buruk tentang Februari. Yang saya kira sebagian besar mungkin kan terjadi, terlalu takut saya akan hal itu. Tapi takkan pernah menyurutkan niat, saya sudah janji.



Malam kemarin, mungkin baru lima atau sepuluh menit saya terlelap, mimpi buruk datang. Mimpi tentang hal-hal yang sebelumnya dipikirkan. Apa yang salah dengan itu? Hanya mimpi (semoga saja).



Lalu, pagi harinya, cahaya matahari langsung masuk ke mata saya, tapi suasana sangat dingin terasa. Dan bayangan buruk itu tetap ada, tak berkurang sama sekali, bahkan bertambah buruk. Saya ketakutan, sangat takut.



Patah hati sebelum kenyataan terjadi, atau memang akan terjadi. Saya bukan seseorang yang optimis, bukan seseorang yang mendambakan hasil yang baik, tapi, untuk urusan ini, saya benar-benar ingin berhasil mencapai itu, mendapatkan itu, menuai apa yang saya tanam. Tapi pernyataan itu terdengar egois bukan? Lalu, salahkah untuk egois? Saya benar-benar tak tahu menahu tentang Februari.




Hampir Shubuh, tapi katuk sepertinya tak mengetuk. Tugas ini hanya sebagai pengalihan sebenarnya, saya terlalu takut memikirkan kemungkinan. Saya ingin tahu apa yang terjadi, saya ingin senyum dari sana, saya hanya ingin tidur dengan tenang, terjaga dengan damai. Tapi mimpi buruk itu tetap terlihat jelas di depan saya, terlihat begitu rinci. Takut, saya ketakutan.



-ihsanjarot
Dini hari ini tak bersajak seperti biasa,
hanya menulis perihal catatan-catatan yang menarik bagi saya, takkan diperinci hanya menjadikannya bayang, mungkin.

Jadi, selamat membaca.


Hari ini, Senin merah.
Senin yang langka untuk para pekerja, Senin yang diagungkan para siswa, namun Senin yang biasa saja untuk saya, karena hari ini tetap tak ada jadwal tuk pergi ke kampus, semua Senin seperti merah di dua semester ini.

Namun, beranjak senja, tak ada apa-apa seperti seharusnya, membosankan.
Tadinya saya akan keluar, berjalan kaki mengikuti jalan-jalan di Kota Kembang ini, tapi seperti kalian tahu, tangis dari langit selalu datang menjelang malam, ya rencana itu saya batalkan.

Jam dua siang, membuka laptop, mendengarkan musik-musik post-rock juga folk, membuka beberapa aplikasi chat, lalu berhenti di salah satu teman yang menarik perhatian.

Takkan saya sebutkan namanya di sini, namun jika sedikit saya bicara, tulisan saya yang berlabel 'tentang dia', orang itu selalu hadir di sana.

Oke, setelah terpesona (eh...) dengan dia, mulailah menelusuri potongan-potongan petualangan yang ia tulis sendiri di artikelnya. Mulai dari yang paling dasar, sampai yang baru mekar. Entahlah dengan ini, mungkin terdengar melebih-lebihkan, tapi saya selalu merasa melihat sisi yang tersembunyi di dunia ini, juga merasakan sensasi seperti menonton film fiksi, tapi percayalah yang ia katakan benar-benar ada, cobalah membuka mata.

Namun sepertinya dia berurusan dengan jeda saat ini, sungguh saya atau pembaca yang lebih setianya merindukan tulisan dengan aura petualangannya.

Oh iya, dia juga beberapa waktu lalu bertanya pada saya, tentang rasa tulisan yang berbeda yang dulu dan kini, ya memang saya rasa ada identitas baru di sana, tapi saya tetap menyukainya (bukan hanya catatannya saja, -eh.. hahaha). Jika ia membaca tulisan ini, semoga dia mekarkan lagi taman yang mulai kering itu. Satu pertanyaan untuknya, apakah kau masih suka menatap langit?

Ini catatan kecil saya untuknya,
semoga dia suka. :)

salam,
-ihsanjarot



Sama seperti langit, setiap hari adalah mendung,entah yang dikeluarkan itu adalah gerimis, badai atau tak mengeluarkan apa-apa.

Senin tetap sama, membosankan.
Bukan karena lembar-lembar yang menumpuk untuk dikerjakan,
atau seseorang yang menakutkan menunggu di kelas yang kini dingin dari biasanya.

Selasa, hari yang terlupakan.
Hari yang tak ada apapun, dia menghilang di enam bulan kedepan,
pergi entah ke mana, menghilang begitu saja.

Rabu dan Kamis, entahlah dengan mereka,
hanya saja pekan ini sepertinya segerombolan mendung yang gelap hinggap.

Dan tiga hari terakhir ini aku ketakutan.
Karena mimpi yang menjadi sering dan tak dapat dilupakan.
Tentang sebuah kehilangan. Tentang kosong yang berdiri menantang.


Sepekan ini aku tak jauh dengan langit,gelap dan tak bisa diterka.Apa yang akan kukeluarkan? Mata yang basah, sumpah serapah, atau ketidakberdayaan? Entahlah, pun denganku yang tak bisa meminta bahagia.

-ihsanjarot
Previous PostPostingan Lama Beranda