I
II
III
IV
V
keberangkatan
pemberhentian pertama
perjalanan panjang
sebuah awal
Lalu-Lalang
Makan Siang
Oase
Prolog
***
Aku merasa janggal beberapa waktu ini, ada rasa senang yang muncul, ada rasa khawatir dan takut. Kau tiba dan kita kembali saling sapa seperti tak terjadi apa-apa, bahkan kita membicarakan orang-orang yang memasuki radar dengan tenang (kelihatannya). Ini terasa aneh bagiku.
Dengan seperti ini, aku tahu, ada harapan lagi di diriku yang juga tiba, namun aku takut ini hanya akan menjadi sebuah pesakitan lagi. Di sisi lain, aku tak bisa menahan senang saat kau tiba dan sepertinya aku memang bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan seseorang. Meski tak ada sebuah temu yang nyata, namun apa yang kurasakan selalu nyata. Dan ingin sebenarnya aku menanyakan langsung padamu perihal ini. Aku sudah lelah dengan berharap, tapi aku secara sadar tak sadar malah menumbuhkan harap.
Sampai saat ini aku masih bisa berdiri dalam keabu-abuan ini, namun aku perlu sebuah warna yang pasti. Hitam atau putih. Dan tahukah kau, terkadang aku merasa sesak saat kau membicarakan orang-orang selain kita saat ini, aku memang lemah dalam membuang sebuah perasaan. Tapi aku tidak ingin lebih lama mendiami sebuah kemungkinan.
Di mana aku sekarang?
***
Satu kakiku sudah menapaki hal baru, dan saat kakiku yang satunya hendak lepas landas, tiba-tiba tertarik lagi oleh hal yang sama. Kau. Tiba-tiba kau datang dan kita berkomunikasi dengan lancar seperti biasanya, seolah bisa saling melupakan perihal hal-hal yang terjadi sebelum ini. Apa maumu?
Ini hal yang aneh bagiku, aku berada di ambang sebuah senang dan jengkel. Dan aku tak tahu apa kau juga berada di antara itu? Bukankah ini terlalu aneh saat beberapa minggu yang lalu kau bilang untuk tidak mencarimu dan berhenti saja, namun sekarang tiba-tiba kau datang dengan mata dan senyuman yang menyenangkan namun menyebalkan.
Apa yang ingin kau beri sekarang? Harapan atau candaan?
Di sini saya hanya akan bercerita mengenai keseharian saya yang dirasa sudah sampai titik di mana semua terasa membosankan. Kuliah, kehidupan di tempat rantau, pertemanan, atau bahkan percintaan (untuk kasus terakhir jangan dibahas, haha)
Untuk masalah kuliah, saya merasa bosan entah kenapa, mungkin karena saya harus mengulang satu tahun, hahaha, tapi mengulang satu tahun itu tidak bermakna apa-apa, ada hal yang menjadi alasan kenapa saya mengulang satu tahun, saya bilang pada kawan-kawan dan juga dosen bahwa itu karena sakit. Namun ada hal lain yang tidak bisa saya ceritakan pada mereka, pun di sini saya tidak ingin membahas itu. Intinya saya terima mengulang satu tahun, itu adalah resiko yang menurut saya kecil dari pada hal lain yang akan terjadi.
Untuk masalah pertemanan mungkin karena terkait masalah kuliah. Ya, ketika teman seangkatan sedang mengerjakan skripsi/tugas akhir di mana-mana (tempat nongkrong, kosan, kampus dll) saya merasa ada sedikit kecemburuan. Terkadang itu membuat saya jenuh, kadang saya melarikan diri dari itu. Saya suka nongkrong sendiri di taman (saya suka nongkrong di taman Dago/ perempatan Dago, depan sebuah gereja), atau menulis sesuatu (puisi, cerpen, atau blog).
Untuk masalah percintaan (dibahas juga ternyata), saya sedang mencintai seseorang yang tidak ada. Ya, dia itu tidak ada di sekitar saya, dia hanya mengambang di kepala, mimpi dan imajinasi (tidak berpikiran kotor). Namun untuk masalah ini, saya sedang menulis beberapa surat yang entah nantinya surat itu saya kirim atau tidak, sampai atau tidak, sekadar pelampiasan perasaan saya. Saya juga sedang mengerjakan sebuah buku kumpulan puisi (doakan tahun ini selesai, Amin) yang isinya tentang perjalanan saya sampai mencintai sosok tersebut.
Kangen. Itu hal yang kurasakan, aku tak sebaik kenalanku, Larung Limaluka. Yang menata kangen dengan sedemikian rupa, hingga cantik, hingga tak ingin melepaskan mata dari tulisannya. Namun kangen milik siapa saja bukan? Jawabannya ada dua; bisa saja, tidak mungkin.
Bisa saja bila kita melihat dari pandangan kesetaraan, tiap orang butuh rasa kangen. Karena dengan itu seseorang bisa tahu apa itu kenangan, kisah dan hal-hal kecil yang biasanya terlupakan berubah menjadi besar dan mengangenkan.
Tidak mungkin. Tidak mungkin dalam beberapa kisah, aku tidak bisa menjelaskan dengan baik, namun contohnya adalah aku sekarang. Merindukan seseorang tanpa pernah seseorang itu rindukan. Apa kalian pernah mengalaminya? Jika pernah, beruntunglah kalian telah mengalaminya.
Sebenarnya, bukan kali ini saja aku mengalaminya. Merindukan sesuatu yang kabur, tidak jelas, dan hanya sebelah pihak saja kangen ini berdiam. Aku sudah beberapa kali dengan nasib ini, tapi yang kini menurutku yang paling menarik, dan paling sakit.
Pertanyaan selanjutnya, apa kalian percaya dengan perasaan tanpa menatap matanya dengan nyata?Dan apakah aku berhak atas rasa kangen ini? Sering sekali pertanyaan ini mampir -- dengan jelas atau diam-diam, sebelum aku terlelap atau melamunkan banyak hal.
Ah, sudah hampir tiga pagi, pertanyaan ini tak terjawab (lagi) sekarang, namun pasti ada jawabnya bukan? Sekarang, sudahi saja percakapan ini, percakapan untuk memenuhi rasa kangenku akan beranda ini. Selamat pagi, aku kembali.
NB semoga kau menjadi salah satu yang membaca tulisan ini. Aku rindu kau dengan bentuk apa pun.
Patah hati sebelum kenyataan terjadi, atau memang akan terjadi. Saya bukan seseorang yang optimis, bukan seseorang yang mendambakan hasil yang baik, tapi, untuk urusan ini, saya benar-benar ingin berhasil mencapai itu, mendapatkan itu, menuai apa yang saya tanam. Tapi pernyataan itu terdengar egois bukan? Lalu, salahkah untuk egois? Saya benar-benar tak tahu menahu tentang Februari.
Sama seperti langit, setiap hari adalah mendung,entah yang dikeluarkan itu adalah gerimis, badai atau tak mengeluarkan apa-apa.
Senin tetap sama, membosankan.
Bukan karena lembar-lembar yang menumpuk untuk dikerjakan,
atau seseorang yang menakutkan menunggu di kelas yang kini dingin dari biasanya.
Selasa, hari yang terlupakan.
Hari yang tak ada apapun, dia menghilang di enam bulan kedepan,
pergi entah ke mana, menghilang begitu saja.
Rabu dan Kamis, entahlah dengan mereka,
hanya saja pekan ini sepertinya segerombolan mendung yang gelap hinggap.
Dan tiga hari terakhir ini aku ketakutan.
Karena mimpi yang menjadi sering dan tak dapat dilupakan.
Tentang sebuah kehilangan. Tentang kosong yang berdiri menantang.
Sepekan ini aku tak jauh dengan langit,gelap dan tak bisa diterka.Apa yang akan kukeluarkan? Mata yang basah, sumpah serapah, atau ketidakberdayaan? Entahlah, pun denganku yang tak bisa meminta bahagia.
-ihsanjarot



