ihsanjarot

Sepertiga Senja; Hujan yang Tak Perlu Diperhatikan

Leave a Comment
Hujan akhirnya datang di penghujung senja,
aku meringkuk melepas keringat yang memelukku.
Napas yang terengah masih membekas jelas.

Dalam kotak kini aku terbaring puas,
memutar kembali bapak tua dan anak kucing
yang terlalu tangguh untuk waktu.
Menyadarkan bahwa taring dunia tak setajam bayang.

Hujan riuh di luar, mengajakku untuk kembali sendu.
Menyuruhku untuk berdiri di batas yang menyebalkan,
yang cipta pertanyaan tanpa ada jawab dari kata-kata.
Pertanyaan untukku, dariku.

Tanganku sigap melambai pada hujan,
menolak tegas ajakan.
Kini aku selangkah lewati batas,
Ketika potongan-potongan kata yang aku dan kau langsungkan.
Ketika sebuah rasa berenang kasat mata.

Sepertiga senja aku sembunyi.

Hujan kembali mengetuk pintu,
memaksaku bermain dalam biru.
Namun malam ini takkan ada airmata,
dalam kotak ini beraroma jingga.

***

Teruntuk hujan


              Maaf, hari ini takkan ada dariku yang berenang dalam genangan yang kau ciptakan. Aku ingin terlelap dengan rasa ini, dan terjaga dengan rasa yang sama. Mungkin esok aku kembali. Jika iya, sisakan ruang agar aku terkena jatuhmu. Sampai aku tak dapat mencium kemarau lagi, sampai kau penuh di segala yang kumiliki. Namun jika aku tak kembali, ciptalah pelangi, yang salah satu ujungnya adalah aku.

              Redalah untuk hari ini, agar bintang tak lagi sembunyi,

                                                                                                                         Dariku



                                                                                                                      -ihsanjarot
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar