Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Sebuah Catatan Romansa
I
Aku menemukan sepasang mata
dengan tatap yang biasa,
tak seperti mataku yang merah muda
sebab terkena sebuah asa yang nyala.
Segalanya harus kutahan,
sebab waktu kutahu tak melulu
berpegang pada orang-orang yang sedang terbakar
harus tetap menyisihkan rasa sabar.
Bukankah sebuah perasaan tak bisa diburu-buru?
Ini bukan tentang memaksakan sesuatu,
namun menyalakan hal lain
yang mungkin nantinya menggebu
tidak hanya untukku.
II
Kita terjebak dalam sebuah drama romansa
yang tak pernah tahu ujungnya.
Duduk di antara poster-poster film yang bisu
dengan sebuah kecemasan tentang malam
yang semakin mesra dengan keadaan.
Aku terjebak dalam kegelisahanmu
dalam sebuah kelambatan dan ketidakpastian,
sebab waktu yang memberikan babak tambahan.
Aku harus berempati atau mensyukuri?
III
Angin bertiup dingin di wajahku,
sementara dalam saku jaket
menyala sebuah lilin kecil
menjadi asa, menjadi rasa
menjadi semua doa-doa baik
yang kuwiridkan dalam setiap putaran roda.
Dan dalam sebuah peristirahatan sementara
dalam segelas teh yang terlalu membara,
kau bersemayam dalam jaketku,
sebab tubuhku kebas oleh dingin kala itu.
IV
Sebuah kesialan -yang menjadi keuntungan.
Aku tersenyum dalam hati,
"Terima kasih, Tuhan, atas sebuah kesialan malam ini."
Aku larut dalam lautan kebahagian,
tubuhku bak seonggok tembok kokoh
yang menopang segala hal-hal yang menyenangkan.
Sepasang mata tertutup dan aku meninggalkan segala kantuk.
Sebuah rasa yang tak pernah disangka,
dan baratnya Jakarta, menjadi sebuah romansa yang sekejap
menjadi hal yang melekat di kepala.
V
Aku berhenti di tempat yang tak asing,
melepas sebuah kebahagiaan pada tempat tidurnya
dari kaca spion,
aku melihat sebuah pintu tertutup dengan merdu.
Aku pulang dalam kebahagiaan,
dan dalam jaketku, bersemayam aroma
yang kudoakan tak mempan hilang dalam cucian.
keberangkatan
Lalu melaju perlahan, menuju pemberhentian pertama.
"mari sejenak meninggalkan keramaian ini,
menuju sesuatu yang sunyi,
menuju awal, di mana aku bisa
berdiri kini."
Pagi yang diselimuti dingin sebab sedari malam hujan mengguyur kota, meninggalkan sisa-sisa yang membuat tubuhku melekat dengan selimut. Helaan napas panjang, apakah aku telah lelah?
Entahlah.
Sebuah keberangkatan yang sama, menuju tempat yang sama, dan orang-orang yang sama, lalu luka?
Pintu bis terbuka lebar, bis yang membawaku menuju area perbatasan kota ini, yang selalu sibuk dan menjenuhkan. Aku duduk di salah satu kursi sebelah kiri, sendiri, dengan ransel yang dihuni oleh dua atau tiga baju ganti, mungkin baju bapak sudah bisa kupakai kini. Pintu telah tertutup, roda bis mulai berputar, melaju perlahan dengan sebuah pagi yang selalu ramai di kota ini.
Aku berangkat.
pemberhentian pertama
Perbatasan kota selalu ramai, bukan hanya di kota ini, namun di kota-kota besar pasti seperti ini. Namun perbatasan kota ini memiliki banyak kenangan untukku, tempat pertama yang kujumpa saat aku berangkat dari kampung halaman, area transisi, area di mana aku melihat banyak orang dengan berbagai memorinya.
"untuk mereka yang pergi
yang mencari dan menentukan nasibnya sendiri.
untuk mereka yang pulang,
menagih rindu -atau kalah?"
Aku melihat mereka yang sedang pergi, meninggalkan kampung halaman, tempat dan orang-orang yang nyaman, untuk mengejar cita-cita, nasib, yang nantinya bisa mereka bawa dan dengan bangga mempersembahkannya pada keluarga. Aku juga melihat mereka yang sedang pulang, sorot mata yang tak sabar menemui orang-orang yang menunggu sebuah kepulangan, untuk menikmati waktu libur, atau memang sengaja menyempatkan diri untuk menghabisi rindunya, dan tak jarang, sebuah kepulangan terjadi karena mereka yang menyerah, kalah, atau hal-hal buruk lainnya, yang memaksa mereka untuk kembali pada titik awal. Kota memang keras.
perjalanan panjang
Sebuah bis berhenti, terpampang di sana sebuah kota yang kuhafal sedari kecil, aaah, aku pulang -entah untuk yang keberapa kalinya. Aku menaiki bis, melihat kanan kiri, mencoba mencari tempat yang nyaman untuk sebuah perjalanan panjang, kali ini aku menduduki bagian kanan kursi bis, aku ingin terlelap sampai nantinya dibangunkan oleh rem bis yang benar-benar menurunkanku di tempat yang sangat kuhafal detailnya.
Aku terjaga sebab manuver bis sangat terasa, kelok kanan, kelok kiri, menanjak dan menurun. Aku melihat sisi kiri kanan jalanan ini sudah teduh, dihimpit bukit-bukit yang seakan akan melahap bis ini jika cuaca buruk. Namun aku senang dengan jalanan ini, seperti tak ada celah untuk rasa bosan, berapa kali pun kupulang, tak pernah terbersit sebuah bosan di kepalaku.
"pesawahan yang bertumpuk,
menjadi piramida yang indah,
di sisi lain, dedaunan dan lumut itu merambat
memeluk dinding tanah yang tinggi.
aku tak pernah bosan dengan apa yang kulihat di sini."
sebuah awal
Kakiku menapaki sebuah kenangan, aku berhenti tepat di mana aku terlahir, meski bangunannya sudah banyak direnovasi, namun di mataku, rumah itu masihlah bilik bambu dengan pohon delima di teras depan rumah, dan terracotta.
Beberapa pasang mata menolehku, tukang ojek, orang-orang yang sedang di warung, mereka menyelediku dengan tatapan hati-hati, setelah itu mereka tersenyum dan menyapa dengan nama kecilku. Aku hanya tersenyum balik pada mereka sambil sesekali mengingat nama-nama yang kulupa -tidak dengan rupa.
Aku berjalan menuju sebuah pintu, mengucap salam, dan aku mendapat senyuman yang sudah kulihat dari kecil. Beberapa orang rumah yang sedang berada di belakang rumah berjalan kecil dan menolehku. Aku benar-benar pulang.
"sehabis magrib yang menjadi sunyi,
dipenuhi jangkrik yang bernyanyi.
waktu di sini berjalan sangat lambat,
mengembalikan memori-memori tentang sebuah awal,
tentang aku yang kulihat di cermin kini."
"dan mereka bertumpuk
dalam sebuah tempat terbuka
dengan asap yang mengelilingi muka,
melepas segala beban dan lelah,
sementara, sementara saja,
sebelum jam menunjukan akhir
dari sebuah siang yang singkat di sana"
***
Lalu-Lalang
Sudirman, Jakarta
7 November 2022
Hari-hari selalu bergemuruh di kota ini, entah awal, tengah atau akhir dalam sebuah pekan, kota yang tak pernah tertidur dengan nyenyak, dipenuhi hutan beton, jalanan yang mesra dengan pantat-pantat merah dari kendaraan dan klakson yang menyanyi dengan merdu di setiap jalanan.
Aku menjajakan kakiku siang ini di ibu kota, yang menyapa pertama kali adalah semilir angin yang kering dan menjadi ibu bagi keringatku yang jarang kujumpa dari tempat asalku berada. Jakarta, sebuah kota impian, yang dipenuhi cita-cita dan gemerlap yang menyajikan kemewahan (atau kesengsaraan?).
Aku di sini bukan untuk sebuah wisata, karena sampai sekarang tidak pernah terlintas di kepalaku bahwa Jakarta menjadi tujuanku untuk menghabiskan waktu dan menikmati akhir pekan atau sebuah liburan. Aku ke sini karena sebuah tugas pekerjaan (sesuatu yang harus kulakukan).
***
Jalanan selalu sibuk dengan biasa, padahal jarak dari tempatku tiba ke tujuan tidaklah jauh, hanya saja terik dan lalu lalang kesibukan mengurungkan niat kakiku untuk melakukan perjalanan seperti ritualku di kota tempatku tinggal. Semuanya terasa melelahkan sebelum aku melakukan apa-apa di sini.
Aku tiba di depan sebuah geduh kaca yang menjulang dan dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan. Aku menghela napas panjang, tidakkah mereka merasakan kelelahan seperti aku sekarang? Entahlah, aku memasuki lift dan beberapa saat tiba di sebuah lantai yang sudah bisa melihat bangunan-bangunan di bawahnya.
Makan Siang
Sejauh mataku memandang, aku tak melihat kaki-kaki lima atau warung makan yang di etalasenya menyajikan makanan-makanan yang menggairahkan dan akrab dengan lambungku, semuanya terlihat menguras saku, dengan lampu-lampu kuning yang menyoroti setiap menu sehingga menjadi meriah dan mengahsut rasa lapar yang lahir karena mataku. Kulihat sekitar, mereka yang bekerja di sini satu persatu (dan lalu berkerumun) turun dari lantai-lantai mereka tinggal, menjumpai pahlawan mereka-ojek daring, yang mengantarkan makanan yang berasal dari antah berantah, yang pasti bukan dari radius 50meter dari tempatku berdiri. Lantas, setelah mereka membawa makanannya, mereka kembali masuk, menaiki gedung-gedung dengan akses yang merepotkan.
Di mana mereka akan memakan semua itu?
Pertanyaan itu muncul setelah kuperhatikan orang-orang di sini, mungkin mereka makan di pantry di mana mereka bekerja, atau mungkin di depan meja kerja? Entahlah, namun memikirkan itu membuatku serasa ingin mengasihani masakan dan juga tangan-tangan para koki atau siapapun yang memasak makanan yang mereka makan, sebab bagiku, kecewalah mereka yang memakan makanan tanpa benar-benar khidmat menikmati setiap suapnya.
Oase
Aku melihat kehidupan yang membuatku senang, di sebelah gedung itu, aku melihat papan dengan tulisan smoking area, dan aku tersenyum sumringah, melihat banyak orang di sana yang sedang berekerumun menikmati setiap embus asap kretek yang mereka hisap dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Aku melihatnya, dari setiap yang mereka embuskan bukan sekadar asap yang mereka lepas, namun beban, rasa lelah dan apapun yang mereka gundahkan, mungkin komplainan dari atasan, atau tugas-tugas mereka yang berat dan melelahkan, namun, untuk apapun itu, aku merasa lega, sebab aku sekarang melihat manusia yang seperti biasa.
Aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, membaur dengan mereka yang kulihat sedang dalam fantasinya masing-masing.
Embusan pertama;
untuk keterasingan ini, untuk kalian yang sedang menikmati singkatnya jam makan siang namun dengan khidmat merayakannya.
Embusan kedua;
untuk kalian yang hebat, yang mungkin tak bisa kutiru atau terbiasa dengan keadaan yang semrawut dan hidup di kota yang sibuk ini.
Embusan ketiga;
untuk kita yang berada dalam oase ini, melupakan sejenak kesibukan dan kewajiban yang kutahu sangat berat hinggap di punggung ini.
Embusan-embusan lain;
untuk waktu yang singkat namun tetap bisa dirayakan dengan normal dan wajar, yang menjauhkan kita sejenak dalam hiruk pikuk keseharian yang terus menerus menuntut kita untuk menjadi sesuatu yang baik dan sempurna.
Prolog
Dalam perjalanan singkatku hari ini, aku menemukan sebuah tempat kecil yang memberikan ruang kehidupan bagi mereka yang tiap harinya bertarung dengan kehidupan dan kutahu tidak sedikit yang mereka korbankan, yang bisa mereka lakukan hanyalah terus menikmati hal-hal yang menjemukan (bagiku). Aku hanya berdoa untuk mereka, untuk terus menikmatinya sampai mungkin di titik mereka lelah atau tersadar dengan apap yang lebih bermakna dari ini semua. Untuk kalian yang bersamaku saat itu, semoga kalian bisa lebih menikmati apapun yang menjadi pilihan.
jokes or hopes?
***
Satu kakiku sudah menapaki hal baru, dan saat kakiku yang satunya hendak lepas landas, tiba-tiba tertarik lagi oleh hal yang sama. Kau. Tiba-tiba kau datang dan kita berkomunikasi dengan lancar seperti biasanya, seolah bisa saling melupakan perihal hal-hal yang terjadi sebelum ini. Apa maumu?
Ini hal yang aneh bagiku, aku berada di ambang sebuah senang dan jengkel. Dan aku tak tahu apa kau juga berada di antara itu? Bukankah ini terlalu aneh saat beberapa minggu yang lalu kau bilang untuk tidak mencarimu dan berhenti saja, namun sekarang tiba-tiba kau datang dengan mata dan senyuman yang menyenangkan namun menyebalkan.
Apa yang ingin kau beri sekarang? Harapan atau candaan?
Kesedihan adalah hal yang harus dijujurkan, bukan untuk disamarkan atau bahkan dihalangi. Rayakanlah kesedihan sebagaimana merayakan perasaan-perasaan kita yang lain.
***
Hi, sudah lama aku tak menjamah sebagian diriku di blog ini. Apa kabar kau, siapapun yang membaca tulisanku ini? Semoga dalam keadaab yang diharapkan.
Kali ini aku ingin menulis perihal waktu, perayaan dan kesedihan. Malam ini aku menangis, sebab ada sesuatu yang membawaku untuk kembali ke titik di mana aku seharusnya menangis. Aku takkan menceritakan perihal penyebab aku menangis, aku hanya akan membicarakan tentang kenapa kita harus merayakan kesedihan.
***
Waktu. Suatu hal yang biasa perihal waktu. Namun aku selalu heran, kenapa ada beberapa orang yang ingin memutarnya, entah untuk kembali atau untuk mengintip masa depan. Kawanku pernah bertanya,
"Jika kita bisa memutar waktu, ke mana kau akan pergi? Masa lalu atau masa depan? Dan jika kau memilih masa lalu, adakah hal yang ingin kau ubah untuk keadaanmu sekarang?"
Aku lama berpikir, dan memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana, meskipun nantinya bisa untuk menjadi time traveller, namun aku takkan ke mana-mana.
Aku tak ingin pergi ke masa depan hanya untuk mengintip jadi apa nanti aku di sana. Menurutku itu hanya melahirkan ketakutan-ketakutan yang lebih besar dan kau tak menikmati waktu sekarang. Masa depan, biarlah jadi kejutan. Dan aku tak ingin kembali ke masa lalu dan memperbaikinya, aku tak ingin ada yang berubah dari aku yang sekarang karena aku cukup menikmatinya.
Ok, dan tentang keterkaitan waktu dan kesedihan. Ini dua hal yang berbeda namun sangat terkait. Entahlah untukmu, namun untukku waktu adalah hal yang bengis. Sebab waktu kadang membawa hal yang sudah kita buang jauh namun dikembalikan begitu saja. Dan hal yang selalu dibawanya adalah kesedihan. Kita seolah sesuatu yang tiba-tiba tertiban akan kesedihan yang lalu.
Brak!
Mungkin akan terdengar demikian jika hal-hal yang dikembalikan pada kita oleh waktu berbentuk wujud.
***
Kesedihan adalah hal yang harus dirayakan menurutku. Bukan untuk dimusnahkan atau ditolak mentah-mentah. Jika ada momen yang mengharuskan kita untuk bersedih, maka bersedihlah. Jangan berpura-pura atau mengabaikannya. Nikmatilah setiap dari potongan kesedihan yang kau miliki. Tentang apapun itu.
Aku sangat banyak menulis dengan tema kesedihan dalam banyak karya tulisku. Sebab, menurutku kesedihan harus diabadikan yang nantinya jadi pengingat saat kita menghadapi situasi yang sama, atau malah untuk ditertawakan di kemudian hari sebab kita bersedih akan hal yang menurut kita lucu nantinya.
***
Malam ini, siapapun kau, di mana pun kau, jika sedang bersedih, bersedihlah, menangislah. Kau baik-baik saja untuk tidak baik-baik saja.
Bandung,
13 September 2020
Pernahkah kau merasa menjadi seorang yang asing? Kesepian? Seolah kau tidak dapat menyatu. Jika kau mencoba untuk membaur, kau kehilangan dirimu dan jika kau menjadi dirimu kau tidak menemukan siapa-siapa. Apa yang kau rasakan? Aku sedang merasakannya saat menulis catatan ini.
Aku menjadi seorang yang asing di sini, di tempatku lahir. Kadang aku dijadikan tamu, kadang aku diperlakukan tidak sama seperti orang lain yang kukenal, dan seringnya, aku merasa kesepian.
Saat menulis ini, aku banyak mengulangi lagu Sting 'Englishman in New York.'
I'm an alien
I'm a legal alien
I'm a Englishman in New York
Ya, aku seolah alien di planet bumi. Menjadi asing dan sepi. Kau tahu? Kadang aku tak bisa membedakan sebuah pulang dan pergi. Hal yang sangat tipis bagiku. Sampai sekarang.
Hai, selamat waktumu saat membaca ini. Dan entah kita saling tahu atau dalam lingkaran yang dipenuhi rasa menerka-nerka.
Saya sebenernya tak punya cerita yang menurut saya menarik belakangan ini. Karena saya sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang dirasa wajib untuk saya tuntaskan secepatnya. Saya hanya rindu menulis, sangat rindu. Beberapa puisi saya tulis, namun saya merasa belum terbebas rasa puisi itu, terlalu dipaksakan. Semoga setelah urusan ini selesai, saya bisa menulis lebih rutin dan lebih baik.
Saya juga sedang merindukan seseorang. Beberapa menit yang lalu saya baru saja mengunjungi blognya, namun belum ada tanda-tanda dia ada, postingan terakhirnya saja sudah dua tahun yang lalu. Namun di beberapa media sosial lain, saya lihat dia sedang berpetualang lagi. Dengan vespa biru. Dia orang yang bebas menurut saya. Berlari kesana kemari, berpetualang, dan semoga dia bahagia melakukan itu.
Aaaah, sungguh, saya sedang bosan beberapa waktu belakang karena mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Saya juga ingin berpetualang. Pergi menaiki kereta menuju tempat-tempat yang saya belum jamah. Oh iya, meskipun ini menurut saya memalukan tapi ini benar adanya. Saya belum pernah naik kereta, saya belum pernah bepergian melebihi Jawa Barat. Ya paling jauh pun mungkin hanya ke Tangerang. Apakah saya kampungan? Menurut saya iya, hahaha.
Saya punya rencana jika saya sudah bebas dari tugas ini. Saya ingin bepergian ke beberapa kota. (Jika dari kalian ada yang mau bergabung dengan saya, saya sangat senang), kota pertama yang saya ingin tuju adalah Yogyakarta, saya ingin pergi ke sana sudah dari lama. Dan saya ingin menemuinya, membereskan urusan yang menurut saya belum selesai. Mungkin saya akan bersedih pada akhirnya. Kemudian mungkin saya akan ke Solo, pertama, ada sebuah acara di sana yang beberapa waktu lalu saya ikut berpartisipasi (saat itu diadakan di Bandung), jadi kali ini saya ingin melihat acara itu.
Lalu saya ingin pergi ke laut. Entahlah, meskipun saya kurang suka, namun beberapa waktu ini saya merindukan aroma pantai. Camping di daerah pantai dan membuat api unggun, yah itu terlalu mainstream namun itulah hal luar biasanya bukan? Tapi yang paling dekat yang saya ingin kunjungi adalah taman kota, di sini, di Bandung. Saya biasanya hanya duduk-duduk saja sambil menulis, biasanya saya lakukan di beberapa taman, Taman Cikapayang, Taman Lansia, atau di trotoar Braga (ah yang terkahir saya rasa bukan taman).
Eh, tapi jika berbicara jalan Braga, pernahkah kalian pergi ke Braga untuk melihat matahari muncul di sana? Jika belum, cobalah, dan saya sarankan untuk pergi bukan saat hari libur. Di sana menyenangkan, tidak seperti saat sore sampai larut malam, ada sisi lain yang saya temukan di sana saat pagi buta.
Baikla, mungkin saat ini itu saja yang ingin saya tulis. Doakan saya agar lancar dengan urusan yang sedang saya jalankan ini. Saya pun mendoakan kalian agar tetap menjadi semestinya yang sesuai dengan jalan kalian masing-masing. Terima kasih telah membacanya, sampai jumpa di lain kesempatan.
Kali ini saya akan bercerita mengenai buku kumpulan puisi saya (masih calon). Saya beri judul "Luka Laki-Laki yang Tak Bisa Lari dari Lara", terlalu panjangkah? "Luka Laki-Laki" saja jika begitu. Kenapa saya beri judul demikian? Saya akan menjelaskannya secara singkat dan jelas nanti.
Buku ini saya buat karena ada hal yang terjadi yang mengubah hidup saya, cara pandang serta pemikiran. Judul buku yang saya pilih pun adalah sebuah pengekspresian saya pribadi, karena saya masih berpikir bahwa puisi itu adalah kejujuran.
***
Ini tentang Tiga,
seseorang yang berdiri di antara nyata dan maya.
Saya menyebutnya Tiga. Karena memang di antara namanya ada nama yang mengartikan "tiga", namun dia tidak mau disebut dengan nama tiga.
Dulu, saya mengenal Tiga saat dia masih SMA. Hanya statusnya saja yang serupa. Untuk yang lain, saya rasa dia lebih seperti seseorang yang bukan anak SMA.
Itu hanya kalimat perumpamaan namun memang nyata. Setelah "bertemu" dengan Tiga, saya bisa melihat dan berpikir. Sebelum bertemu dengannya saya memang bisa melihat dan berpikir, namun tidak dengan seperti ini. Ada hal lain yang terjadi. Ada sudut pandang dan pemikiran yang terbuka saat setelah saya "bertemu" dengan Tiga.
Jatuh cinta
Sungguh klise. Setiap manusia yang mengalami jatuh cinta pasti juga sering berkata, "Kau mengubah hidupku.", saya pun demikian namun itu memang benar adanya.
Saya jatuh cinta, namun jatuh cinta dengan cara berbeda.
Saya mengalaminya. Anehkah? Untuk saya sendiri ini terlihat aneh dan mungkin tidak wajar. Ini tidak terjadi begitu saja. Ada hal lain yang membuat ini terjadi.
Namun setiap rasa yang saya miliki tidak pernah tersampaikan. Tidak ada balasan serupa dari Tiga. Saya menggenggamnya sendiri, saya mencengkramnya sendiri, saya memilikinya sendiri.
Pada akhirnya, sampai saat artikel ini ditulis, saya tetap dengan perasaan yang sama. Dan sendiri.
Dalam buku ini saya tuliskan puisi-puisi saya tentang Tiga, tentang luka. Tentang saya yang tak mampu menyatakan kemayaan dan tentangnya yang tidak pernah melihat dan menganggap saya nyata.
"Luka Laki-Laki yang Tak Bisa Lari dari Lara" adalah representasi dari perasaan yang sialnya nyata dan terjadi pada saya.
Buku ini mungkin hanya berisi kemarahan atas ketidakbecusan saya, kemarahan atas ketidakadilan yang saya rasakan, kesedihan saya yang mengakar serta kesedihan atas hancurnya sebuah harapan.
Saya di sini bekerja sama dengan beberapa pihak untuk buku ini. Saya meminta bantuan terhadap teman saya Fiani R. dan larunglimaluka untuk isi serta komposisi dari buku ini. Juga desain sampul yang saya kerjakan bersama FarouqArt Vector. Untuk penerbitan saya masih mencari pihak-pihak penerbit yang memang sesuai dengan apa yang saya inginkan.
Mungkin itu saja yang saya ingin sampaikan dalam artikel kali ini. Terima kasih untukmu yang bersedia meluangkan waktu untuk sekadar membaca artikel saya. Saya juga meminta doa dan support darimu agar buku ini bisa terbit dan lahir dengan selamat dan lancar. Aamiin.
seseorang yang berdiri di antara nyata dan maya.
Saya menyebutnya Tiga. Karena memang di antara namanya ada nama yang mengartikan "tiga", namun dia tidak mau disebut dengan nama tiga.
Dulu, saya mengenal Tiga saat dia masih SMA. Hanya statusnya saja yang serupa. Untuk yang lain, saya rasa dia lebih seperti seseorang yang bukan anak SMA.
Percayakah kau jika Tiga memberi saya mata dan kepala?
Itu hanya kalimat perumpamaan namun memang nyata. Setelah "bertemu" dengan Tiga, saya bisa melihat dan berpikir. Sebelum bertemu dengannya saya memang bisa melihat dan berpikir, namun tidak dengan seperti ini. Ada hal lain yang terjadi. Ada sudut pandang dan pemikiran yang terbuka saat setelah saya "bertemu" dengan Tiga.
Jatuh cinta
Sungguh klise. Setiap manusia yang mengalami jatuh cinta pasti juga sering berkata, "Kau mengubah hidupku.", saya pun demikian namun itu memang benar adanya.
Saya jatuh cinta, namun jatuh cinta dengan cara berbeda.
Apakah kau pernah jatuh cinta tanpa pernah menatap mata orang yang kau cintai?
Karena Tiga memberi mata dan kepala pada saya.
Pada akhirnya, sampai saat artikel ini ditulis, saya tetap dengan perasaan yang sama. Dan sendiri.
Dalam buku ini saya tuliskan puisi-puisi saya tentang Tiga, tentang luka. Tentang saya yang tak mampu menyatakan kemayaan dan tentangnya yang tidak pernah melihat dan menganggap saya nyata.
"Luka Laki-Laki yang Tak Bisa Lari dari Lara" adalah representasi dari perasaan yang sialnya nyata dan terjadi pada saya.
***
Saya di sini bekerja sama dengan beberapa pihak untuk buku ini. Saya meminta bantuan terhadap teman saya Fiani R. dan larunglimaluka untuk isi serta komposisi dari buku ini. Juga desain sampul yang saya kerjakan bersama FarouqArt Vector. Untuk penerbitan saya masih mencari pihak-pihak penerbit yang memang sesuai dengan apa yang saya inginkan.
Mungkin itu saja yang saya ingin sampaikan dalam artikel kali ini. Terima kasih untukmu yang bersedia meluangkan waktu untuk sekadar membaca artikel saya. Saya juga meminta doa dan support darimu agar buku ini bisa terbit dan lahir dengan selamat dan lancar. Aamiin.
Tali sepatuku telah terikat, tas ransel sudah cukup berat,
aku berdiri di depan pintu sebelum berangkat, pintu yang tak bisa kunamai,
pintu masuk atau pintu keluar? Aku tak bisa memilih salah satunya. Pintu tanpa
nama.
Suasana
hening selalu tersaji saat aku akan memulai perjalanan. Pintu-pintu kamar
tertutup rapat, dikunci, sama dengan mata mereka yang kelelahan setelah
semalaman dipaksa terbuka hanya untuk saling melotot atau menangisi keadaan.
Aku
melangkah menuju pintu pagar. Kulihat seorang suami sedang mengecup kening
istrinya. Di rumah lain, kulihat sepasang suami istri yang lain sedang menggenggam kedua
tangan kecil anaknya yang sedang belajar berlari. Aku menatap dengan ribuan
rasa iri. Nafasku terasa berat, aku berangkat.
***
Kakiku
menginjak kota yang juga tak bisa kunamai ini. Kota perantauan atau kota
kepulangan? Aku tak bisa memilih salah satunya. Kereta yang kutumpangi tadi
telah berangkat lagi, mungkin akan pulang atau pergi? Tunggu dulu, aku menemukan
nama untuk pintu dan kota ini. Pintu kereta, kota kereta. Entah itu pergi atau
kembali, keduanya seperti sama saja.
Aku berjalan keluar dari stasiun,
menaiki ojek yang menunggu penumpang tiba.
“Baru pulang, Mas?” Kata tukang
ojek itu sembari memberikan salah satu helmnya padaku.
“Tidak tahu, Pak, saya tak yakin
bahwa saya baru pulang, saya juga tak yakin bahwa saya sedang pergi,” kataku
sembari memakai helm.
Tukang ojek itu menatapku
sebentar, kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Masnya buat saya bingung saja, mari, Mas, silakan naik,” katanya sembari menepuk-nepuk jok motornya.
Menyuruhku untuk duduk.
Sesampainya di jalan kecil menuju
tempatku tinggal di kota kereta ini, aku memberikan kembali helm yang
dipinjamkan oleh tukang ojek itu sembari memberi satu lembar uang dua puluh
ribu.
“Terima kasih, Pak,” kataku.
“Sama-sama, Mas,” jawabnya singkat.
“Mas, Mas ... ,” tukang ojek itu memanggilku yang sudah beberapa
langkah meninggalkannya.
“Ada apa, Pak, apa ongkosnya kurang?” Tanyaku sembari tangan kananku memasuki
saku kemeja.
“Tidak, bukan itu, Mas,” sanggahnya.
“Lalu?” Tanyaku lagi.
“Anggaplah kota ini sebagai
rumah, nanti Masnya juga akan betah
jika sudah terbiasa.” Kemudian tukang ojek itu memacu sepeda motornya
meninggalkanku. Sejenak aku memikirkan apa yang tukang ojek itu katakan
kemudian tersenyum heran.
Rumah?
***
Besok malam, takbir akan
berkumandang di seluruh mesjid di sini. Sebuah seruan yang mengartikan
kebahagiaan, kemenangan, keagungan dan pemujaan kepada Tuhan. Namun itu menurut
mereka, menurutku takbir ini adalah sebuah kata yang mengusirku dari kota ini,
memaksaku untuk berangkat kembali, menyuruhku untuk memasuki pintu kereta lagi.
Suasana di stasiun sangat ramai,
calon penumpang memenuhi setiap ruang di sini, para petugas sibuk mengurusi
nasib-nasib orang lain, sedang mereka sendiri tak sadar sedang ditunggu oleh
keluarganya.
Aku memasuki gerbong kereta,
duduk di dekat jendela. Kursi di sebelah dan di hadapanku diduduki oleh satu
keluarga kecil. Ayahnya duduk di sebelahku dengan memangku anak laki-lakinya
yang masih balita, sedangkan di hadapanku duduk ibunya, dan di hadapan ayahnya
duduk putri mereka yang sudah remaja. Di mata orangtuanya terpancarkan rasa
bahagia, sedangkan di tatapan putri mereka, matanya tampak biasa. Sama
sepertiku, tidak seantusias mereka yang memang memelihara rindu dengan baik.
Setengah perjalanan telah terlalui,
kulihat ibu dari keluarga itu sedang memangku anak balitanya yang tadi dipangku
sang ayah, putri mereka sedang terlelap, mungkin kebosanan, sang ayah sendiri
sedang memakan makanan yang mungkin tadi mereka beli di stasiun.
“Makanannya, Dek,” ucap sang ayah menawarkan sebuah keripik pisang padaku.
“Terima kasih, Pak, saya masih kenyang,” jawabku.
Sang ayah tersenyum sembari
membuka plastik yang membungkus keripik pisangnya.
“Sudah lama, Dek, tinggal di Jakarta?” Tanyanya.
“Sudah lima tahun, Pak,” jawabku.
“Sudah lumayan juga, gimana, Dek, sudah betah di Jakarta?” Tanyanya
lagi.
“Sepertinya sudah, Pak,” jawabku singkat.
“Jangan terlalu betah di sana, Dek, pada akhirnya kita harus pulang ke
kampung halaman, pulang ke rumah,” katanya.
“Saya sudah lebih dari dua puluh
lima tahun di Jakarta, saya kira saya sudah siap untuk meninggalkan kota itu sekarang.
Sehabis lebaran nanti, saya dan keluarga akan menetap di rumah kami, di kampung,
tidak lagi ke Jakarta,” sambungnya.
“Oh, kenapa begitu, Pak?” Tanyaku.
“Banyak orang yang beranggapan
bahwa dengan pergi ke Jakarta atau ke kota besar lain, kita bisa dapat dengan
mudah mendapatkan pekerjaan dan digaji besar, padahal sebenarnya itu hanya
bayangan saja, jika dipikirkan lagi sekarang, mungkin hal itu ada benarnya,
namun tak semuanya benar,” jawabnya.
“Maksud bapak?” Tanyaku lagi.
“Ya, jika dirasa sudah cukup
mendapatkan uang langsung pulang saja, dijadikan modal usaha di kampung, hidup
enak, tidur di tanah sendiri, lalu melihat anak-anak saya besar dan mungkin
mereka pun akan pergi seperti saya atau adek sendiri.” Bapak itu tersenyum
padaku, seperti sedang memberikan nasihat untuk berhati-hati dengan kota
keretaku.
“Begitu ya, Pak, terima kasih atas nasihatnya.”
Aku menatap jendela kereta yang
melukiskan lampu-lampu kota yang asing, kota yang menjadi rumah untuk
orang-orang lain, kota yang menjadi persinggahan dan pengaduan nasib untuk
sebagian orang yang lain. Kota memang asing.
***
Aku sudah berada di pintu pagar
yang tak asing, di dalamnya kulihat pintu kereta tertutup rapat. Tidak ada
penyambutan, tidak ada ucapan selamat datang. Kulihat rumah-rumah sekitar sudah
ramai oleh kendaraan-kendaraan berplat kota lain.
Kubuka pintu keretaku itu, sangat
hening. Kulihat pintu-pintu kamar masih tertutup rapat. Kulangkahkan kakiku
menuju belakang bangunan ini, diruang makan sangat berantakan, pecahan piring
dan gelas, tudung saji yang berada di posisi yang jauh dari makanan, tergeletak
terbuka di dekat jalan menuju kamar mandi, meja makan sendiri kulihat tak sebersih lantai, butir-butir nasi yang
berantakan, juga dengan lauk yang seperti bernyawa, berjalan sendiri dari
piring sajinya.
Kuhela napas panjang. Apakah ini sebuah pulang?
***
Takbir
telah berkumandang. Kuintip dari jendela kamar, orang-orang berkeliling kampung
dengan membawa microphone dan beduk
sembari menaiki mobil bak terbuka. Anak-anak kecil mengikuti di belakangnya
dengan mengayuh sepeda mereka. Untuk malam ini, anak-anak kecil itu terbebas
dari jam malam.
Di luar
kamarku, kudengar suasana lebih ramai dari waktu tadi saat aku datang ke sini
ataupun sebelum aku berangkat dari sini. Suara dengan nada-nada tinggi, suara
dari hasil benturan benda-benda dari kaca dengan lantai keramik, suara dari
hasil pertemuan yang cepat antara telapak tangan dan kulit pipi, dan
suara-suara dengan bahasa yang seharusnya tak kuhafalkan selama ini.
Aku
memasangkan headset di telinga,
manambahkan volume suara dari handphoneku.
Memutarkan lagu-lagu yang tidak kalah keras dengan suasan di luar kamarku.
Mataku sedang mencari hal-hal yang bisa menenangkan semua ini, pelamunan.
Sampai akhirnya tatapanku berhenti di sebuah foto yang sudah kusam, foto
berukuran sebesar amplop, berbingkai putih, dengan kacanya yang sudah retak,
hasil dari gebrakanku saat aku datang ke sini terakhir kali.
Kuambil
foto itu, melihatnya dengan seksama, kulihat dalam foto itu aku sedang
tersenyum bebas, ayahku menggendongku di pundaknya, ibuku berada di samping
ayah sembari memegangi bagian belakang tubuhku, agar aku tak jatuh. Mataku
meneteskan kesakitan, tanganku bergetar, cengkramanku pada bingkai foto itu
semakin kuat, dadaku sesak, musik yang sedang kudengarkan seperti menghening
secara perlahan, memoriku akan masa lalu seperti dibakar.
Braaak
Kulempar
foto itu dengan kuat, membentur dinding. Kaca yang tadi retak sudah tak ada,
berubah menjadi serpihan beling yang tajam, bingkai yang putih tadi tergores
dan pudar sebagian, bahkan patah, fotonya tidak apa-apa, masih utuh dalam satu
lembar, masih pudar seperti semula. Headset
yang menempel dikupingku kucabut, handphone
di sebelahku nasihnya sama seperti foto dan bingkainya.
Kuambil
bantal, kututupi kepalaku dengan bantal itu dengan kuat, berharap tak mendengar
apa-apa lagi. Mataku masih belum berhenti mengeluarkan kesakitan, mulutku
seperti ingin menjerit namun tertahan sesuatu.
***
Aku
terbangun dengan dipaksa orang lain.
“Bangun!
Bangun!” Teriak seseorang berseragam yang tak kukenal.
Aku
berlari, berteriak histeris, memukul siapa saja yang mendekatiku.
“Dan, izin untuk memborgolnya,” kata
orang yang tadi membangunkanku.
“Silakan,
angkut semua orang gila ini, kita nanti masukkan ke panti-panti atau
penampungan,” ucap seseorang yang lain yang sama-sama memakai seragam.
Aku terus
memberontak kepada mereka hingga pada akhirnya mereka menambah beberapa orang
untuk menangkapku. Lalu menjebloskanku ke mobil truk. Entah ke mana aku pergi
sekarang. Kursi yang ditaruh di bak truk ini sudah dipenuhi orang-orang yang
bernasib sepertiku.
Mereka
membawaku sangat jauh dan berhenti di tempat entah berantah, aku sudah tak bisa
memahami apa yang ditulis di papan dekat gerbang masuk tadi. Kulihat beberapa
orang dengan seragam berbeda menyambut kami. Menyuruh kami berjalan, memasuki
bangunan besar dengan banyak orang-orang yang bertingkah tak wajar di halaman
depannya.
Setelah
beberapa lama, aku dibawa ke ruangan terbukan, pakaiankuy semua dilucuti sampai
aku tak mengenakan apa-apa, orang-orang berseragam yang tadi menurunkanku
mengguyurkan air ke seluruh badanku.
“Sekarang
kalian boleh tinggal di sini, jangan takut pada kami, anggap ini rumah baru
untuk kalian, kami akan bantu kalian semampu kami,” kata orang berseragam itu
kepadaku sambil tak henti mengguyurkan air pada badanku.
“Rumah?”
Aku menatap orang itu dengan heran.
“Iya,
sekarang ini rumahmu, kau akan baik-baik saja,” jawabnya sambil tersenyum.
Aku
tersenyum menirukan orang itu, entah kenapa mataku mengeluarkan sesuatu,
seperti air, namun rasanya tak sama denga air yang orang itu guyurkan padaku.
Air ini seperti sangat berharga, seperti sesuatu yang keluar dari langit,
memberikan cahaya kepadaku.
Entah
kenapa aku memeluk orang itu dengan senang.
“Rumah,
akhirnya aku punya rumah, akhirnya aku pulang,” teriakku girang.
“Iya, kamu
sudah pulang sekarang, kamu harus menjaga sikap di sini, sebelum kamu senang,
kita bereskan dulu mandimu ini,” jawabnya.
“Aku
pulang, aku pulang, aku pulang.” Tak henti-henti aku berteriak senang.
- SELESAI -
Bandung
2018
Di suatu pagi yang masih dini, ketika cahaya jauh dari matang, titik di mana mimpi dan kenyataan sejajar, ia terlahir dengan tangisan. Hanya tangisan, tidak ada kebahagiaan. Air matanya jatuh dari mata air lahiriah. Di balik selimut yang bukan untuk mengusir dinginnya pagi, ia bersemayam. Metamorfosis.
Namanya Je, seorang laki-laki yang mencoba berteman dengan dunia dan realita. Dahulu, sebelum dia terlahir, dia adalah pemimpi dan penanti yang setia. Juga pembohong ulung. Dia pandai menyembunyikan segala resah dari dunia dan realita.
***
"Hai, pagi yang belia, saya pulang."
Dia hempaskan tubuhnya pada ranjang yang dia anggap sebagai ibu dan jelmaan pagi. Kepalanya dikunjungi pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja. Sampai biasanya tamu-tamu di kepalanya itu pulang ketika cahaya sudah menggaris di langit barat.
"Bolehkah pagi ini saya menutup diri dari tamu-tamu itu?" Dia mengangkat dirinya sendiri, terduduk di ranjang kemudian menyalakan sebatang tembakau manis yang dibungkus sehelai kertas putih. Asap keluar dari mulut dan lubang hidungnya. Nafasnya menjadi berat, matanya sayu menatap kamar yang gelap.
"Ibu, haruskah saya mengenali dunia ini?" Tanyanya.
Tidak ada jawaban. Kamarnya masih sunyi. Dan akan terus sunyi.
Dia berpindah ke meja dan laptop yang masih menyala. Mengikat rambutnya kemudian jari-jari tanganya bersuara. Yang dia yakini ibunya, pagi yang dini, adalah sosok yang bisu dan tuli, namun tidak buta. Maka, segala perasaan yang ingin ia sampaikan ditulisnya di lembar-lembar kertas atau diketik pada lembar-lembar digital.
"Ibu, saya meresahkan diri saya sendiri di sini. Ketakutan, kesakitan. Apa anakmu ini akan baik-baik saja?"
Jarinya terus bersuara sampai dia tersadar ibunya telah dininabobokan sinar yang menggurat horizontal dari barat. Ia tersenyum kecil, namun matanya berkaca-kaca.
"Saya kembali menjadi pura-pura."
***
Di pagi belia yang lain, Je terus bersenandung. Menadakan luka-luka serta keresahan yang mendiami kepala dan dadanya. Tak jarang air matanya jatuh, atau malah dia tertawa getir.
"Ibu, saya menjadi gila, sedari tadi saya bermain di atas luka-luka yang mulai mengering. Saya membasahinya lagi agar kembali wangi, namun kini saya menderita," ucapnya.
"Saya menertawakan diri saya sendiri yang sedang menjerit dan menangis. Saya juga menangisi diri saya sendiri yang masih bisa tertawa."
"Ibu, bolehkah saya kembali melihat cerita itu? Cerita yang sudah kau tutup rapat tentang saya."
Dia membenamkan kesadaranya secara paksa, sampai akhirnya dia terlelap juga. Kelelahan meluka.
Dalam lelapnya, dia memimpikan sesosok perempuan dengan wajah sebuah suasana di pagi yang terlalu dini. Sepi. Perempuan itu mempersilakan kepala Je untuk terjatuh di pangkuannya.
"Je, kau itu baru tunas," ucap perempuan itu sembari membelai-belai rambut Je yang panjang.
Je tidak mengekspresikan apa-apa. Dia merasa betah dipangku perempuan itu.
"Kau terlahir karena dirimu sendiri. Kau ada karena ketulusanmu. Dan kelak, kau akan mati karena penantianmu." Perempuan itu menatap Je dengan khidmat.
Je mulai menangis pelan, kini ia menjadi bisu namun tidak tuli dan buta. Bibirnya terkunci, kehendaknya untuk membantah tak bisa keluar.
"Je, nanti akan ada waktu di mana kau akan mengetahui ceritamu lagi. Bukan dari bibir yang sedang bicara ini. Tapi kau sendiri yang akan menemukan kepingan-kepingan kisahmu sebelum lahir, sebelum mati."
Je terbangun dari lelapnya. Itu hanya mimpi, pikirnya, namun di sudut matanya pikiran itu terbantahkan. Ada jejak di sana, dan ada sesuatu yang lain, yang sedang menunggunya untuk kembali.
Terlihat berbeda memang. Komposisi kata dari harapan dan memori pun dengan arti mereka masing-masing. Salah satu dari mereka berarti belum terjadi dan satu lagi adalah sebaliknya. Memang beda. Jelas berbeda meskipun kau baca dengan tulisan terbalik.
Tidak akan pernah sama. Benarkah? Lalu kenapa kesedihan ini terjadi sebelum harapan menjadi memori? Setiap malam sebelum terlelap, aku mendoakan segala resah yang terjadi karena harapan, memohon Tuhan menidurkanku secara cepat agar pikiranku tidak selalu berlarian mengelilingi namamu. Lagu-lagu aku nyalakan dengan suara kencang agar bibir dan otakku berjalan menggumamkan lirik-lirik yang sebelumnya tak pernah kuhafal.
Lalu ada apa dengan memori yang kusebutkan di nama tulisanku ini? Jangan berpura-pura, airmataku hampir habis karena itu. Dan harapan hanya menjadi mata air baru untuk airmataku.
-ihsanjarot
Tidak akan pernah sama. Benarkah? Lalu kenapa kesedihan ini terjadi sebelum harapan menjadi memori? Setiap malam sebelum terlelap, aku mendoakan segala resah yang terjadi karena harapan, memohon Tuhan menidurkanku secara cepat agar pikiranku tidak selalu berlarian mengelilingi namamu. Lagu-lagu aku nyalakan dengan suara kencang agar bibir dan otakku berjalan menggumamkan lirik-lirik yang sebelumnya tak pernah kuhafal.
Namun lagu-lagu itu seolah berpihak padamu.
Lalu ada apa dengan memori yang kusebutkan di nama tulisanku ini? Jangan berpura-pura, airmataku hampir habis karena itu. Dan harapan hanya menjadi mata air baru untuk airmataku.
-ihsanjarot
Aku tak pernah mengerti tentang orang-orang yang berpegang tangan kemudian berjalan pelan yang beralasan waktu adalah kenikmatan. Mereka tak pernah benar-benar tahu perihal nikmat itu sendiri. Tiap detik yang berjalan mereka gunakan untuk kecup atau belai rambut-- setidaknya mereka benar-benar hanyut.
Aku juga tak paham dengan mereka yang dari mulutnya keluar kutukan karena rindu yang memakan habis dinding kalbu. Sampai mereka seperti sekarat. Menuntut apa saja yang dicuri waktu. Kecup, belaian rambut dan pelukan yang tak pernah mereka rasakan.
Mereka, yang bergandeng tangan dan mengutuk tak pernah menuai tuah apa yang rindu tanam. Percayalah. Rindu bukan seseorang yang mengacungkan belati yang teramat tajam.
-ihsanjarot
Aku juga tak paham dengan mereka yang dari mulutnya keluar kutukan karena rindu yang memakan habis dinding kalbu. Sampai mereka seperti sekarat. Menuntut apa saja yang dicuri waktu. Kecup, belaian rambut dan pelukan yang tak pernah mereka rasakan.
Lalu, di mana keadilan untuk rindu itu sendiri?
Mereka, yang bergandeng tangan dan mengutuk tak pernah menuai tuah apa yang rindu tanam. Percayalah. Rindu bukan seseorang yang mengacungkan belati yang teramat tajam.
-ihsanjarot
Previous PostPostingan Lama
Beranda


