ihsanjarot

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

 



keberangkatan

Lalu melaju perlahan, menuju pemberhentian pertama.

"mari sejenak meninggalkan keramaian ini,
menuju sesuatu yang sunyi,
menuju awal, di mana aku bisa
berdiri kini."

Pagi yang diselimuti dingin sebab sedari malam hujan mengguyur kota, meninggalkan sisa-sisa yang membuat tubuhku melekat dengan selimut. Helaan napas panjang, apakah aku telah lelah?

Entahlah.

Sebuah keberangkatan yang sama, menuju tempat yang sama, dan orang-orang yang sama, lalu luka?

Pintu bis terbuka lebar, bis yang membawaku menuju area perbatasan kota ini, yang selalu sibuk dan menjenuhkan. Aku duduk di salah satu kursi sebelah kiri, sendiri, dengan ransel yang dihuni oleh dua atau tiga baju ganti, mungkin baju bapak sudah bisa kupakai kini. Pintu telah tertutup, roda bis mulai berputar, melaju perlahan dengan sebuah pagi yang selalu ramai di kota ini.

Aku berangkat.

pemberhentian pertama

Perbatasan kota selalu ramai, bukan hanya di kota ini, namun di kota-kota besar pasti seperti ini. Namun perbatasan kota ini memiliki banyak kenangan untukku, tempat pertama yang kujumpa saat aku berangkat dari kampung halaman, area transisi, area di mana aku melihat banyak orang dengan berbagai memorinya.

"untuk mereka yang pergi
yang mencari dan menentukan nasibnya sendiri.
untuk mereka yang pulang,
menagih rindu -atau kalah?"

Aku melihat mereka yang sedang pergi, meninggalkan kampung halaman, tempat dan orang-orang yang nyaman, untuk mengejar cita-cita, nasib, yang nantinya bisa mereka bawa dan dengan bangga mempersembahkannya pada keluarga. Aku juga melihat mereka yang sedang pulang, sorot mata yang tak sabar menemui orang-orang yang menunggu sebuah kepulangan, untuk menikmati waktu libur, atau memang sengaja menyempatkan diri untuk menghabisi rindunya, dan tak jarang, sebuah kepulangan terjadi karena mereka yang menyerah, kalah, atau hal-hal buruk lainnya, yang memaksa mereka untuk kembali pada titik awal. Kota memang keras.

perjalanan panjang

Sebuah bis berhenti, terpampang di sana sebuah kota yang kuhafal sedari kecil, aaah, aku pulang -entah untuk yang keberapa kalinya. Aku menaiki bis, melihat kanan kiri, mencoba mencari tempat yang nyaman untuk sebuah perjalanan panjang, kali ini aku menduduki bagian kanan kursi bis, aku ingin terlelap sampai nantinya dibangunkan oleh rem bis yang benar-benar menurunkanku di tempat yang sangat kuhafal detailnya.

Aku terjaga sebab manuver bis sangat terasa, kelok kanan, kelok kiri, menanjak dan menurun. Aku melihat sisi kiri kanan jalanan ini sudah teduh, dihimpit bukit-bukit yang seakan akan melahap bis ini jika cuaca buruk. Namun aku senang dengan jalanan ini, seperti tak ada celah untuk rasa bosan, berapa kali pun kupulang, tak pernah terbersit sebuah bosan di kepalaku.

"pesawahan yang bertumpuk,
menjadi piramida yang indah,
di sisi lain, dedaunan dan lumut itu merambat
memeluk dinding tanah yang tinggi.
aku tak pernah bosan dengan apa yang kulihat di sini."

sebuah awal

Kakiku menapaki sebuah kenangan, aku berhenti tepat di mana aku terlahir, meski bangunannya sudah banyak direnovasi, namun di mataku, rumah itu masihlah bilik bambu dengan pohon delima di teras depan rumah, dan terracotta. 

Beberapa pasang mata menolehku, tukang ojek, orang-orang yang sedang di warung, mereka menyelediku dengan tatapan hati-hati, setelah itu mereka tersenyum dan menyapa dengan nama kecilku. Aku hanya tersenyum balik pada mereka sambil sesekali mengingat nama-nama yang kulupa -tidak dengan rupa.

Aku berjalan menuju sebuah pintu, mengucap salam, dan aku mendapat senyuman yang sudah kulihat dari kecil. Beberapa orang rumah yang sedang berada di belakang rumah berjalan kecil dan menolehku. Aku benar-benar pulang.

"sehabis magrib yang menjadi sunyi,
dipenuhi jangkrik yang bernyanyi.
waktu di sini berjalan sangat lambat,
mengembalikan memori-memori tentang sebuah awal,
tentang aku yang kulihat di cermin kini."


            Tali sepatuku telah terikat, tas ransel sudah cukup berat, aku berdiri di depan pintu sebelum berangkat, pintu yang tak bisa kunamai, pintu masuk atau pintu keluar? Aku tak bisa memilih salah satunya. Pintu tanpa nama.

            Suasana hening selalu tersaji saat aku akan memulai perjalanan. Pintu-pintu kamar tertutup rapat, dikunci, sama dengan mata mereka yang kelelahan setelah semalaman dipaksa terbuka hanya untuk saling melotot atau menangisi keadaan.

            Aku melangkah menuju pintu pagar. Kulihat seorang suami sedang mengecup kening istrinya. Di rumah lain, kulihat sepasang suami istri yang lain sedang menggenggam kedua tangan kecil anaknya yang sedang belajar berlari. Aku menatap dengan ribuan rasa iri. Nafasku terasa berat, aku berangkat.

***

            Kakiku menginjak kota yang juga tak bisa kunamai ini. Kota perantauan atau kota kepulangan? Aku tak bisa memilih salah satunya. Kereta yang kutumpangi tadi telah berangkat lagi, mungkin akan pulang atau pergi? Tunggu dulu, aku menemukan nama untuk pintu dan kota ini. Pintu kereta, kota kereta. Entah itu pergi atau kembali, keduanya seperti sama saja.

Aku berjalan keluar dari stasiun, menaiki ojek yang menunggu penumpang tiba.

“Baru pulang, Mas?” Kata tukang ojek itu sembari memberikan salah satu helmnya padaku.

“Tidak tahu, Pak, saya tak yakin bahwa saya baru pulang, saya juga tak yakin bahwa saya sedang pergi,” kataku sembari memakai helm.

Tukang ojek itu menatapku sebentar, kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Masnya buat saya bingung saja, mari, Mas, silakan naik,” katanya sembari menepuk-nepuk jok motornya. Menyuruhku untuk duduk.

Sesampainya di jalan kecil menuju tempatku tinggal di kota kereta ini, aku memberikan kembali helm yang dipinjamkan oleh tukang ojek itu sembari memberi satu lembar uang dua puluh ribu.

“Terima kasih, Pak,” kataku.

“Sama-sama, Mas,” jawabnya singkat.

“Mas, Mas ... ,” tukang ojek itu memanggilku yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.

“Ada apa, Pak, apa ongkosnya kurang?” Tanyaku sembari tangan kananku memasuki saku kemeja.

“Tidak, bukan itu, Mas,” sanggahnya.

“Lalu?” Tanyaku lagi.

“Anggaplah kota ini sebagai rumah, nanti Masnya juga akan betah jika sudah terbiasa.” Kemudian tukang ojek itu memacu sepeda motornya meninggalkanku. Sejenak aku memikirkan apa yang tukang ojek itu katakan kemudian tersenyum heran.

Rumah?

***

Besok malam, takbir akan berkumandang di seluruh mesjid di sini. Sebuah seruan yang mengartikan kebahagiaan, kemenangan, keagungan dan pemujaan kepada Tuhan. Namun itu menurut mereka, menurutku takbir ini adalah sebuah kata yang mengusirku dari kota ini, memaksaku untuk berangkat kembali, menyuruhku untuk memasuki pintu kereta lagi.

Suasana di stasiun sangat ramai, calon penumpang memenuhi setiap ruang di sini, para petugas sibuk mengurusi nasib-nasib orang lain, sedang mereka sendiri tak sadar sedang ditunggu oleh keluarganya.

Aku memasuki gerbong kereta, duduk di dekat jendela. Kursi di sebelah dan di hadapanku diduduki oleh satu keluarga kecil. Ayahnya duduk di sebelahku dengan memangku anak laki-lakinya yang masih balita, sedangkan di hadapanku duduk ibunya, dan di hadapan ayahnya duduk putri mereka yang sudah remaja. Di mata orangtuanya terpancarkan rasa bahagia, sedangkan di tatapan putri mereka, matanya tampak biasa. Sama sepertiku, tidak seantusias mereka yang memang memelihara rindu dengan baik.

Setengah perjalanan telah terlalui, kulihat ibu dari keluarga itu sedang memangku anak balitanya yang tadi dipangku sang ayah, putri mereka sedang terlelap, mungkin kebosanan, sang ayah sendiri sedang memakan makanan yang mungkin tadi mereka beli di stasiun.

“Makanannya, Dek,” ucap sang ayah menawarkan sebuah keripik pisang padaku.

“Terima kasih, Pak, saya masih kenyang,” jawabku.

Sang ayah tersenyum sembari membuka plastik yang membungkus keripik pisangnya.

“Sudah lama, Dek, tinggal di Jakarta?” Tanyanya.

“Sudah lima tahun, Pak,” jawabku.

“Sudah lumayan juga, gimana, Dek, sudah betah di Jakarta?” Tanyanya lagi.

“Sepertinya sudah, Pak,” jawabku singkat.

“Jangan terlalu betah di sana, Dek, pada akhirnya kita harus pulang ke kampung halaman, pulang ke rumah,” katanya.

“Saya sudah lebih dari dua puluh lima tahun di Jakarta, saya kira saya sudah siap untuk meninggalkan kota itu sekarang. Sehabis lebaran nanti, saya dan keluarga akan menetap di rumah kami, di kampung, tidak lagi ke Jakarta,” sambungnya.

“Oh, kenapa begitu, Pak?” Tanyaku.

“Banyak orang yang beranggapan bahwa dengan pergi ke Jakarta atau ke kota besar lain, kita bisa dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan digaji besar, padahal sebenarnya itu hanya bayangan saja, jika dipikirkan lagi sekarang, mungkin hal itu ada benarnya, namun tak semuanya benar,” jawabnya.

“Maksud bapak?” Tanyaku lagi.

“Ya, jika dirasa sudah cukup mendapatkan uang langsung pulang saja, dijadikan modal usaha di kampung, hidup enak, tidur di tanah sendiri, lalu melihat anak-anak saya besar dan mungkin mereka pun akan pergi seperti saya atau adek sendiri.” Bapak itu tersenyum padaku, seperti sedang memberikan nasihat untuk berhati-hati dengan kota keretaku.

“Begitu ya, Pak, terima kasih atas nasihatnya.”

Aku menatap jendela kereta yang melukiskan lampu-lampu kota yang asing, kota yang menjadi rumah untuk orang-orang lain, kota yang menjadi persinggahan dan pengaduan nasib untuk sebagian orang yang lain. Kota memang asing.

***

Aku sudah berada di pintu pagar yang tak asing, di dalamnya kulihat pintu kereta tertutup rapat. Tidak ada penyambutan, tidak ada ucapan selamat datang. Kulihat rumah-rumah sekitar sudah ramai oleh kendaraan-kendaraan berplat kota lain.

Kubuka pintu keretaku itu, sangat hening. Kulihat pintu-pintu kamar masih tertutup rapat. Kulangkahkan kakiku menuju belakang bangunan ini, diruang makan sangat berantakan, pecahan piring dan gelas, tudung saji yang berada di posisi yang jauh dari makanan, tergeletak terbuka di dekat jalan menuju kamar mandi, meja makan sendiri kulihat tak sebersih lantai, butir-butir nasi yang berantakan, juga dengan lauk yang seperti bernyawa, berjalan sendiri dari piring sajinya.

Kuhela napas panjang. Apakah ini sebuah pulang?

***

            Takbir telah berkumandang. Kuintip dari jendela kamar, orang-orang berkeliling kampung dengan membawa microphone dan beduk sembari menaiki mobil bak terbuka. Anak-anak kecil mengikuti di belakangnya dengan mengayuh sepeda mereka. Untuk malam ini, anak-anak kecil itu terbebas dari jam malam.

            Di luar kamarku, kudengar suasana lebih ramai dari waktu tadi saat aku datang ke sini ataupun sebelum aku berangkat dari sini. Suara dengan nada-nada tinggi, suara dari hasil benturan benda-benda dari kaca dengan lantai keramik, suara dari hasil pertemuan yang cepat antara telapak tangan dan kulit pipi, dan suara-suara dengan bahasa yang seharusnya tak kuhafalkan selama ini.

            Aku memasangkan headset di telinga, manambahkan volume suara dari handphoneku. Memutarkan lagu-lagu yang tidak kalah keras dengan suasan di luar kamarku. Mataku sedang mencari hal-hal yang bisa menenangkan semua ini, pelamunan. Sampai akhirnya tatapanku berhenti di sebuah foto yang sudah kusam, foto berukuran sebesar amplop, berbingkai putih, dengan kacanya yang sudah retak, hasil dari gebrakanku saat aku datang ke sini terakhir kali.

            Kuambil foto itu, melihatnya dengan seksama, kulihat dalam foto itu aku sedang tersenyum bebas, ayahku menggendongku di pundaknya, ibuku berada di samping ayah sembari memegangi bagian belakang tubuhku, agar aku tak jatuh. Mataku meneteskan kesakitan, tanganku bergetar, cengkramanku pada bingkai foto itu semakin kuat, dadaku sesak, musik yang sedang kudengarkan seperti menghening secara perlahan, memoriku akan masa lalu seperti dibakar.

            Braaak

            Kulempar foto itu dengan kuat, membentur dinding. Kaca yang tadi retak sudah tak ada, berubah menjadi serpihan beling yang tajam, bingkai yang putih tadi tergores dan pudar sebagian, bahkan patah, fotonya tidak apa-apa, masih utuh dalam satu lembar, masih pudar seperti semula. Headset yang menempel dikupingku kucabut, handphone di sebelahku nasihnya sama seperti foto dan bingkainya.

            Kuambil bantal, kututupi kepalaku dengan bantal itu dengan kuat, berharap tak mendengar apa-apa lagi. Mataku masih belum berhenti mengeluarkan kesakitan, mulutku seperti ingin menjerit namun tertahan sesuatu.

***

            Aku terbangun dengan dipaksa orang lain.

            “Bangun! Bangun!” Teriak seseorang berseragam yang tak kukenal.

            Aku berlari, berteriak histeris, memukul siapa saja yang mendekatiku.

            “Dan, izin untuk memborgolnya,” kata orang yang tadi membangunkanku.

            “Silakan, angkut semua orang gila ini, kita nanti masukkan ke panti-panti atau penampungan,” ucap seseorang yang lain yang sama-sama memakai seragam.

            Aku terus memberontak kepada mereka hingga pada akhirnya mereka menambah beberapa orang untuk menangkapku. Lalu menjebloskanku ke mobil truk. Entah ke mana aku pergi sekarang. Kursi yang ditaruh di bak truk ini sudah dipenuhi orang-orang yang bernasib sepertiku.

            Mereka membawaku sangat jauh dan berhenti di tempat entah berantah, aku sudah tak bisa memahami apa yang ditulis di papan dekat gerbang masuk tadi. Kulihat beberapa orang dengan seragam berbeda menyambut kami. Menyuruh kami berjalan, memasuki bangunan besar dengan banyak orang-orang yang bertingkah tak wajar di halaman depannya.

            Setelah beberapa lama, aku dibawa ke ruangan terbukan, pakaiankuy semua dilucuti sampai aku tak mengenakan apa-apa, orang-orang berseragam yang tadi menurunkanku mengguyurkan air ke seluruh badanku.

            “Sekarang kalian boleh tinggal di sini, jangan takut pada kami, anggap ini rumah baru untuk kalian, kami akan bantu kalian semampu kami,” kata orang berseragam itu kepadaku sambil tak henti mengguyurkan air pada badanku.

            “Rumah?” Aku menatap orang itu dengan heran.

            “Iya, sekarang ini rumahmu, kau akan baik-baik saja,” jawabnya sambil tersenyum.

            Aku tersenyum menirukan orang itu, entah kenapa mataku mengeluarkan sesuatu, seperti air, namun rasanya tak sama denga air yang orang itu guyurkan padaku. Air ini seperti sangat berharga, seperti sesuatu yang keluar dari langit, memberikan cahaya kepadaku.

            Entah kenapa aku memeluk orang itu dengan senang.

            “Rumah, akhirnya aku punya rumah, akhirnya aku pulang,” teriakku girang.

            “Iya, kamu sudah pulang sekarang, kamu harus menjaga sikap di sini, sebelum kamu senang, kita bereskan dulu mandimu ini,” jawabnya.

            “Aku pulang, aku pulang, aku pulang.” Tak henti-henti aku berteriak senang.



- SELESAI -
Bandung
2018

“Akhirnya kau ke langit biru.”

            Deras hujan belum bosan sepanjang tahun ini, aku menatap lamat-lamat langit gelap. Memahami kembali kejadian seminggu yang lalu, kejadian sembilan belas tahun lalu. Tentang mendung yang selalu menerpa seseorang.

            Saat itu aku kelas enam sekolah dasar, jauh dari sini, di sebuah tempat yang masih kucium aromanya sekarang, dan gadis itu, Tika. Teman sebangkuku waktu itu, juga tetangga yang hanya terhalang pagar-pagar kayu.

            Tika, seorang gadis yang hampir setahun lebih muda dariku. Dia datang saat aku menginjak kelas enam sekolah dasar. Dia dan keluarganya pindah dari kota besar ke kotaku karena urusan pekerjaan orangtuanya. Gadis yang manis, dengan rambut hitam seleher, dan mata yang bulat.

            Sebenarnya aku termasuk bocah pemalu saat itu, tak punya banyak teman dan selalu berdiam di rumah, namun ketika tetangga baru kami datang untuk silaturahmi, saat itu aku melihatnya, melihat Tika.

***

            Kami berangkat sekolah bersama karena para orangtua menitipkan Tika padaku.

            “Git, tolong jaga Tika ya, dia kurang pandai beradaptasi, jadi ibu titip ya, nak!” begitu kata orangtua Tika.

            Ya, meskipun aku juga enggan menolak karena hanya menemaninya sementara sampai dia beradaptasi di lingkungan baru ini.

            Kami berjalan bersama menuju sekolah, jalanan yang pinggirnya ditumbuhi ilalang, juga tanah-tanah yang basah menjadi pemandangan saat itu.

            “Git.” Tiba-tiba Tika menghentikan langkahnya.

            “Ya, kenapa?”

               Tika memelukku erat sampai kami terjatuh ke tempat yang dipenuhi ilalang.

               “Hei, ada apa?”

            “Aku tak mau di sini.” Jawab Tika dengan setengah berteriak dan kulihat di matanya kini basah.

            Hari pertama dia sekolah, hari itu pula hari pertama kami bolos, aku akhirnya mengajak dia ke lereng gunung untuk menenangkannya. Dan karena lumayan jauh dari sekolah jadi kami terpaksa bolos di hari pertama.
   
                 “Kenapa kau, Tik?”

            Dia hanya menunduk dengan memeluk lututnya, masih dengan tangis gerimis. Dia tak menjawab. Aku pun merebahkan diri melihat langit yang mendung. Lalu, siangnya kami pulang.

            Keesokan harinya, kami kembali berangkat sekolah bersama, Tika hanya diam seperti biasa. Hari ini kami sekolah, dan dia menjadi  teman sebangkuku. Saat siang, kami kembali pulang bersama.

            “Git, maafkan tentang kemarin, karena aku, kau juga jadi tak masuk sekolah.” Tika menghentikan langkah kakinya di pertengahan jalan, lalu tiba-tiba bicara, sama seperti kemarin.

            “Tak apa-apa, Tik, aku pun sebenarnya malas untuk masuk di hari Senin.”

            “Git, setelah pulang, maukah kau pergi menuju tempat kemarin?”

            “Asalkan kau tak menangis seperti kemarin, aku mau.”

            Wajah Tika memandangku, saat itu dia tersenyum manis, senyum pertama darinya, untukku. Cukup membuat wajahku merah.

            “Aku tak janji, tapi ayo kita ke sana berdua.” Ucapnya sambil melanjutkan langkah yang terhenti tadi.

***

            Langit saat itu mendung, seperti sebelumnya, seperti hari ini. Tika hanya diam, memegang lututnya, seperti kemarin namun tidak dengan tangis gerimis itu.

            “Kemarin, kau kenapa menangis?” Aku membuka pembicaraan karena bosan dengan awan-awan kelabu saat itu.

            “Apa kau mau tinggal bersama dengan orang-orang yang tidak memerhatikanmu?” Tika menjawab sambil matanya jauh menatap langit, menembus awan-awan kelabu, seolah bertemu langsung dengan langit biru.

            “Hah? Apa maksudnya?”

            “Kau tidak mengerti ya? Sudahlah, lupakan itu, sebentar lagi sepertinya akan hujan, mari kita pulang.”

            Aku masih belum mengerti apa yang diucapkannya.

***

           Sudah hampir enam bulan Tika tinggal di sini, situasinya tak banyak berubah, dia seperti belum bisa beradaptasi meski sudah memiliki dua-tiga orang untuk teman berbincangnya.

               “Apa lingkungan di sini menyulitkanmu?” Tanyaku padanya di perjalanan sepulang sekolah.

            “Tidak. Tempat ini sejuk, pegunungan dan rumput-rumput hijau, aku suka. Meski selalu mendung.” Jawab Tika sambil matanya kembali menatap langit, menembus awan-awan, tatapnya jauh ke atas.

                 “Ke mana pun aku pergi, aku tetap mendung.” Lanjutnya sembari meneruskan langkahnya.

            “Tunggu! Ceritakanlah! Apa yang kau sembunyikan? Aku tak pernah mengerti dengan ucapanmu, setiap hari kau mengajakku ke lereng gunung, lalu di sana kau hanya diam seolah aku mengerti. Aku tidak pernah benar-benar paham apa yang kau pikirkan.” Tanganku dengan sendiri menahan tangan Tika yang beranjak pergi.

            Tika hanya menatapku, kini aku melihat matanya yang berkaca. Di sana, di kedua mata itu, aku seperti merasakan apa yang dia rasa. Lalu dia berlari menjauh dariku, dan aku hanya terdiam di tengah perjalanan dengan rasa sakit Tika yang sekarang kupahami.

***

            Esok harinya, Tika tak masuk sekolah. Aku hanya menatap jendela rumahnya mencari-carinya di sana. Lalu berangkat sendiri.

            Sepulang sekolah, aku menuju lereng gunung. Tak ada dia di sana. Aku kembali berbaring dan menatap mendung.

            “Apa yang kau lihat di sana?” Gumamku sembari memainkan rumput yang terselip di bibir.

            “Langit yang biru, kau adalah itu, meski mendung selalu datang seperti di kota ini. Tapi kau adalah langit biru.” Mataku terpejam dengan penuh pertanyaan tentang Tika.

                  “Git, Sigit.” Seseorang membangunkanku.

            Itu Tika dengan dengan memakai pakaian terusan berwarna biru langit, rambut tergerai dan pita bunga yang menambah cantik dirinya.

            “Eh, Tika? Ada apa?” Tanyaku sambil menggaruk mata mencoba membersihkan sisa ketiduranku itu.

            Tiba-tiba ia memelukku erat.

            “Terima kasih, Git, sekarang aku harus pulang. Aku akan kembali ke kotaku berasal. Terima kasih telah mau menemaniku di sini.” Ucapnya, begitu jelas.

            Seketika entah mengapa, mataku mulai melahirkan aliran sendu.

            “Kenapa? Kenapa aku menangis?”

            “Git, terima kasih sudah mengerti. Sekarang, selamat tinggal, Git.” Jawab Tika sambil mulai mengambil langkah menjauh. Tangannya melambai padaku, senyuman itu, senyuman yang sama dengan senyumnya yang kulihat pertama.

            “Tunggu, tunggu, Tika.” Seruku sambil mencoba bangkit. Tapi dia seolah tak mendengarku, dia tetap melanjutkan langkahnya.

            “Tika, aku akan mencarimu suatu saat, aku akan membuat mendungmu layu, aku akan memerlihatkan birunya langit. Jadi, tunggulah aku di mana pun kau tinggal. Karena aku mencintaimu.” Teriakku. Kulihat Tika menghentikan langkahnya beberapa saat, lalu dia berlari semakin jauh, punggungnya terus mengerucut di mataku.

***

            Hujan telah reda, namun mendung tatap berkuasa. Kuminum sisa kopiku, lalu menaruh uang sesuai daftar harga yang kupesan. Beranjak meninggalkan kedai kopi, membuka pintu keluar lalu berhenti, kembali aku menatap langit, menembus awan-awan mendung, aku mencari langit biru. Itu tak pernah ada. Kakiku mulai mengambil langkah menuju tempat yang istimewa.

            “Aku di kotamu kini, akhirnya kita bertemu. Benar katamu, ke mana pun kau pergi, langit selalu mendung. Andai saat itu aku tahu dari awal apa yang terjadi, mungkin di kedai kopi tadi akan terang, meski hujan di luar. Maafkan aku, Tika, aku baru tahu apa yang benar-benar terjadi seminggu yang lalu, dari nenekmu. Kehidupan orangtua memang rumit, dan kau hanya menjadi korban dari mereka. Kenapa kau menceritakanku pada nenekmu? Apa kau mencintaiku? Mungkin saat itu aku berkata konyol padamu, namun percayalah, aku benar-benar mencintaimu. Maafkan aku, semoga kau lelap di sana, di langit biru yang kau harap.”



Aku kembali pergi, pulang menuju kotaku, meninggalkan Tika dengan seikat bunga yang kubawa dari lereng gunung.Tika hanya diam, tak senyum tak menangis, dia terlelap damai dalam tempat barunya. Dalam makamnya.
Previous PostPostingan Lama Beranda