ihsanjarot

Tampilkan postingan dengan label Trilogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trilogi. Tampilkan semua postingan
Hujan akhirnya datang di penghujung senja,
aku meringkuk melepas keringat yang memelukku.
Napas yang terengah masih membekas jelas.

Dalam kotak kini aku terbaring puas,
memutar kembali bapak tua dan anak kucing
yang terlalu tangguh untuk waktu.
Menyadarkan bahwa taring dunia tak setajam bayang.

Hujan riuh di luar, mengajakku untuk kembali sendu.
Menyuruhku untuk berdiri di batas yang menyebalkan,
yang cipta pertanyaan tanpa ada jawab dari kata-kata.
Pertanyaan untukku, dariku.

Tanganku sigap melambai pada hujan,
menolak tegas ajakan.
Kini aku selangkah lewati batas,
Ketika potongan-potongan kata yang aku dan kau langsungkan.
Ketika sebuah rasa berenang kasat mata.

Sepertiga senja aku sembunyi.

Hujan kembali mengetuk pintu,
memaksaku bermain dalam biru.
Namun malam ini takkan ada airmata,
dalam kotak ini beraroma jingga.

***

Teruntuk hujan


              Maaf, hari ini takkan ada dariku yang berenang dalam genangan yang kau ciptakan. Aku ingin terlelap dengan rasa ini, dan terjaga dengan rasa yang sama. Mungkin esok aku kembali. Jika iya, sisakan ruang agar aku terkena jatuhmu. Sampai aku tak dapat mencium kemarau lagi, sampai kau penuh di segala yang kumiliki. Namun jika aku tak kembali, ciptalah pelangi, yang salah satu ujungnya adalah aku.

              Redalah untuk hari ini, agar bintang tak lagi sembunyi,

                                                                                                                         Dariku



                                                                                                                      -ihsanjarot
Hujan masih terlambat. Menambahkan waktu
untuk cipta jejak di tempat yang tak asing lagi.
Jalanan yang berangin debu tertinggal beberapa saat lalu.

Langkah-langkah bergerak cepat, untuk memakan waktu
yang disajikan seseorang yang ada di ribuan anak tangga di atasku.
Kau. Perempuan yang kuhubungi melalui jaringan yang menyatu dengan angin. Berlalu-lalang tanpa sebuah penghalang.

Gemetar bibir. Pada awal perbincangan yang dinantikan.
Suaramu perlahan melantun indah dengan hembus napas pelan,
membuat gemetar merambat pada tangan, kaki dan sekujur badan.
Aku siap.

Detik berikutnya kau hanya diam.
Memerhatikan setiap kata yang tertahan sejak jumpa,
masih dengan gemetar dan napas yang tergesa-gesa.
Aku mengudarakan kotak-kotak yang tertanam dalam diri.

Lalu perbincangan itu terhenti. Mati.
Ketika dirimu menanggapi gemetar yang mungkin jelas terdengar.
Memaksa aku mengambil napas panjang.

Dan kata-kata dimulai kembali.
Kini diamlah aku, meresapi setiap kata yang keluar darimu.
Menikmati suara yang membujuk temu.

Lalu semua selesai dengan pertanyaan
yang masih bergelantung bebas di langit luas.
Kau dan aku diam kini.
Dan mataku seperti mencari-cari sedikit jawab
di langit, jalan, dan yang mendengar percakapan ini.

Sepertiga senja aku mengguratkan kepuasan.
Selisih satu anak tangga kini,
aku melihatmu dari belakang.
Kau menjadi lukisan dengan latar cahaya hangat.

-ihsanjarot

Depan Gedung Sate, Bandung.
Hujan terlambat hari ini. Membiarkanku menyusuri
jalan yang berangin debu, musim yang menjadi rindu,
Aroma dari daun-daun setengah kering,
menyerbak di setiap sudut yang penuh jejakku.

Seseorang tersenyum dengan keterlambatan hujan,
terik mentari seperti oksigen yang menghidupi.
Memperpanjang napasnya untuk dunia yang kelam,
dalam kotak ia mengguratkan kemenangan.
Bersyukur.

Lengan-lengan yang tak lagi kencang,
rambut yang ditinggalkan hitam,
bergerak menyambutku seperti hujan di kemarau panjang.

Hidup di tanah orang, pergi untuk pulang.
Percakapan yang dingin namun menyenangkan,
salah satu korban dari kesejahteraan.
Mengusir waktu yang ia rasa terhenti untuknya.

Kita habiskan sepertiga senja dengan duduk
dan melihat langit timur gelap.
Hujan yang terlambat datang,
mengisi perut anak istrinya.

Tak ada sesiapa lagi di kotak itu,
hanya bapak tua dan puluhan rasa.
Juga seekor anak kucing yang sendiri bermain.
Menerkam plastik yang tergerak angin,
menjadi bahan senyuman aku dan bapak tua.

Mendung mendekat pelan,
cemas mata bapak tua dengan kematiannya hari ini.
Perut anak istri masih belum penuh terisi.

-ihsanjarot

Jl. W.R. Supratman, Bandung.
Previous PostPostingan Lama Beranda