Tiga pagi, kata beberapa sumber saat ini, waktu pergantian malam dan pagi adalah di mana udara paling baik untuk dihirup, karena mungkin oksigen-oksigen baru dilahirkan oleh tanaman, asap-asap knalpot yang belum bangun, atau pun pabrik yang mencetak bibit-bibit polusi. Tapi saya tak terlalu mementingkan itu, kamar saya penuh dengan asap rokok, karena butuh energi (sugesti) untuk mengerjakan sebuah persentasi yang ditugaskan teman.
Oke, di sini saya takkan bahas udara atau pun persentasi itu, hanya sekadar menulis catatan harian dari malam kemarin sampai sekarang.
Jadi, nikmatilah...
Malam kemarin, saya terlelap sebelum tengah malam, tidak seperti biasanya. Sebenarnya saya yang memaksa lelap, karena nalar tak kuat memikirkan hal-hal buruk tentang Februari. Yang saya kira sebagian besar mungkin kan terjadi, terlalu takut saya akan hal itu. Tapi takkan pernah menyurutkan niat, saya sudah janji.
Malam kemarin, mungkin baru lima atau sepuluh menit saya terlelap, mimpi buruk datang. Mimpi tentang hal-hal yang sebelumnya dipikirkan. Apa yang salah dengan itu? Hanya mimpi (semoga saja).
Lalu, pagi harinya, cahaya matahari langsung masuk ke mata saya, tapi suasana sangat dingin terasa. Dan bayangan buruk itu tetap ada, tak berkurang sama sekali, bahkan bertambah buruk. Saya ketakutan, sangat takut.
Patah hati sebelum kenyataan terjadi, atau memang akan terjadi. Saya bukan seseorang yang optimis, bukan seseorang yang mendambakan hasil yang baik, tapi, untuk urusan ini, saya benar-benar ingin berhasil mencapai itu, mendapatkan itu, menuai apa yang saya tanam. Tapi pernyataan itu terdengar egois bukan? Lalu, salahkah untuk egois? Saya benar-benar tak tahu menahu tentang Februari.
Hampir Shubuh, tapi katuk sepertinya tak mengetuk. Tugas ini hanya sebagai pengalihan sebenarnya, saya terlalu takut memikirkan kemungkinan. Saya ingin tahu apa yang terjadi, saya ingin senyum dari sana, saya hanya ingin tidur dengan tenang, terjaga dengan damai. Tapi mimpi buruk itu tetap terlihat jelas di depan saya, terlihat begitu rinci. Takut, saya ketakutan.
-ihsanjarot
0 komentar:
Posting Komentar