Ayat 1:
Sepotong langit di sini,
tak nikmat diresap,
hambar.
Takkan seutuh di sana,
jingga.
Ayat 2:
Malam lengkap sudah,
serdadu bintang berbaris riang,
juga purnama yang gagah berkuasa.
Menyedihkan.
Ayat 3:
Rintik tak pernah datang sendiri,
nanti, saat pagi
matahari akan dingin,
seperti seharusnya.
Lantai di sini basah,
retak di hati menambah.
Ayat 4:
Hujan hanya cipta ilusi,
dekap, kecup dan aroma telapak tangan.
Berjalan riang berlalu-lalang,
di kepala, saat dunia di anggap tiada.
Ayat 5:
Langit menggantungkan asa,
malam menyalakannya,
hujan menguatkannya.
Dunia menghapus semua.
Ayat 6:
Tiada tempat berteduh,
semua yang tertata di sana
(langit dan awan)
runtuh.
Jatuh menerpa diri.
Ayat 7:
Mereka;
bintang, awan dan seperangkat
langit lainnya,
begitu tinggi.
Sampai atap kamar terlihat mini.
Ayat 8:
Garis-garis kini tampakkan diri,
menggurat batas,
memilah-milah
mana langit, mana sakit.
Ayat 9:
Di atas sana,
mereka beriak
seperti diterpa hujan.
Jelasnya, kaburku.
Ayat 10:
Di sini,
dasar yang termakan pelangi,
langit goyah.
Mulai berkemas, lalu pergi.
Ayat 11:
Esok mungkin seperangkat langit tiada,
telah beranjak menuju entah.
Wariskan retak membelalak,
ditertawa, dilara.
-ihsanjarot
Mantap puisinya!
BalasHapusterima kasih, Kania
Hapus