ihsanjarot

Mendung

Leave a Comment
“Akhirnya kau ke langit biru.”

            Deras hujan belum bosan sepanjang tahun ini, aku menatap lamat-lamat langit gelap. Memahami kembali kejadian seminggu yang lalu, kejadian sembilan belas tahun lalu. Tentang mendung yang selalu menerpa seseorang.

            Saat itu aku kelas enam sekolah dasar, jauh dari sini, di sebuah tempat yang masih kucium aromanya sekarang, dan gadis itu, Tika. Teman sebangkuku waktu itu, juga tetangga yang hanya terhalang pagar-pagar kayu.

            Tika, seorang gadis yang hampir setahun lebih muda dariku. Dia datang saat aku menginjak kelas enam sekolah dasar. Dia dan keluarganya pindah dari kota besar ke kotaku karena urusan pekerjaan orangtuanya. Gadis yang manis, dengan rambut hitam seleher, dan mata yang bulat.

            Sebenarnya aku termasuk bocah pemalu saat itu, tak punya banyak teman dan selalu berdiam di rumah, namun ketika tetangga baru kami datang untuk silaturahmi, saat itu aku melihatnya, melihat Tika.

***

            Kami berangkat sekolah bersama karena para orangtua menitipkan Tika padaku.

            “Git, tolong jaga Tika ya, dia kurang pandai beradaptasi, jadi ibu titip ya, nak!” begitu kata orangtua Tika.

            Ya, meskipun aku juga enggan menolak karena hanya menemaninya sementara sampai dia beradaptasi di lingkungan baru ini.

            Kami berjalan bersama menuju sekolah, jalanan yang pinggirnya ditumbuhi ilalang, juga tanah-tanah yang basah menjadi pemandangan saat itu.

            “Git.” Tiba-tiba Tika menghentikan langkahnya.

            “Ya, kenapa?”

               Tika memelukku erat sampai kami terjatuh ke tempat yang dipenuhi ilalang.

               “Hei, ada apa?”

            “Aku tak mau di sini.” Jawab Tika dengan setengah berteriak dan kulihat di matanya kini basah.

            Hari pertama dia sekolah, hari itu pula hari pertama kami bolos, aku akhirnya mengajak dia ke lereng gunung untuk menenangkannya. Dan karena lumayan jauh dari sekolah jadi kami terpaksa bolos di hari pertama.
   
                 “Kenapa kau, Tik?”

            Dia hanya menunduk dengan memeluk lututnya, masih dengan tangis gerimis. Dia tak menjawab. Aku pun merebahkan diri melihat langit yang mendung. Lalu, siangnya kami pulang.

            Keesokan harinya, kami kembali berangkat sekolah bersama, Tika hanya diam seperti biasa. Hari ini kami sekolah, dan dia menjadi  teman sebangkuku. Saat siang, kami kembali pulang bersama.

            “Git, maafkan tentang kemarin, karena aku, kau juga jadi tak masuk sekolah.” Tika menghentikan langkah kakinya di pertengahan jalan, lalu tiba-tiba bicara, sama seperti kemarin.

            “Tak apa-apa, Tik, aku pun sebenarnya malas untuk masuk di hari Senin.”

            “Git, setelah pulang, maukah kau pergi menuju tempat kemarin?”

            “Asalkan kau tak menangis seperti kemarin, aku mau.”

            Wajah Tika memandangku, saat itu dia tersenyum manis, senyum pertama darinya, untukku. Cukup membuat wajahku merah.

            “Aku tak janji, tapi ayo kita ke sana berdua.” Ucapnya sambil melanjutkan langkah yang terhenti tadi.

***

            Langit saat itu mendung, seperti sebelumnya, seperti hari ini. Tika hanya diam, memegang lututnya, seperti kemarin namun tidak dengan tangis gerimis itu.

            “Kemarin, kau kenapa menangis?” Aku membuka pembicaraan karena bosan dengan awan-awan kelabu saat itu.

            “Apa kau mau tinggal bersama dengan orang-orang yang tidak memerhatikanmu?” Tika menjawab sambil matanya jauh menatap langit, menembus awan-awan kelabu, seolah bertemu langsung dengan langit biru.

            “Hah? Apa maksudnya?”

            “Kau tidak mengerti ya? Sudahlah, lupakan itu, sebentar lagi sepertinya akan hujan, mari kita pulang.”

            Aku masih belum mengerti apa yang diucapkannya.

***

           Sudah hampir enam bulan Tika tinggal di sini, situasinya tak banyak berubah, dia seperti belum bisa beradaptasi meski sudah memiliki dua-tiga orang untuk teman berbincangnya.

               “Apa lingkungan di sini menyulitkanmu?” Tanyaku padanya di perjalanan sepulang sekolah.

            “Tidak. Tempat ini sejuk, pegunungan dan rumput-rumput hijau, aku suka. Meski selalu mendung.” Jawab Tika sambil matanya kembali menatap langit, menembus awan-awan, tatapnya jauh ke atas.

                 “Ke mana pun aku pergi, aku tetap mendung.” Lanjutnya sembari meneruskan langkahnya.

            “Tunggu! Ceritakanlah! Apa yang kau sembunyikan? Aku tak pernah mengerti dengan ucapanmu, setiap hari kau mengajakku ke lereng gunung, lalu di sana kau hanya diam seolah aku mengerti. Aku tidak pernah benar-benar paham apa yang kau pikirkan.” Tanganku dengan sendiri menahan tangan Tika yang beranjak pergi.

            Tika hanya menatapku, kini aku melihat matanya yang berkaca. Di sana, di kedua mata itu, aku seperti merasakan apa yang dia rasa. Lalu dia berlari menjauh dariku, dan aku hanya terdiam di tengah perjalanan dengan rasa sakit Tika yang sekarang kupahami.

***

            Esok harinya, Tika tak masuk sekolah. Aku hanya menatap jendela rumahnya mencari-carinya di sana. Lalu berangkat sendiri.

            Sepulang sekolah, aku menuju lereng gunung. Tak ada dia di sana. Aku kembali berbaring dan menatap mendung.

            “Apa yang kau lihat di sana?” Gumamku sembari memainkan rumput yang terselip di bibir.

            “Langit yang biru, kau adalah itu, meski mendung selalu datang seperti di kota ini. Tapi kau adalah langit biru.” Mataku terpejam dengan penuh pertanyaan tentang Tika.

                  “Git, Sigit.” Seseorang membangunkanku.

            Itu Tika dengan dengan memakai pakaian terusan berwarna biru langit, rambut tergerai dan pita bunga yang menambah cantik dirinya.

            “Eh, Tika? Ada apa?” Tanyaku sambil menggaruk mata mencoba membersihkan sisa ketiduranku itu.

            Tiba-tiba ia memelukku erat.

            “Terima kasih, Git, sekarang aku harus pulang. Aku akan kembali ke kotaku berasal. Terima kasih telah mau menemaniku di sini.” Ucapnya, begitu jelas.

            Seketika entah mengapa, mataku mulai melahirkan aliran sendu.

            “Kenapa? Kenapa aku menangis?”

            “Git, terima kasih sudah mengerti. Sekarang, selamat tinggal, Git.” Jawab Tika sambil mulai mengambil langkah menjauh. Tangannya melambai padaku, senyuman itu, senyuman yang sama dengan senyumnya yang kulihat pertama.

            “Tunggu, tunggu, Tika.” Seruku sambil mencoba bangkit. Tapi dia seolah tak mendengarku, dia tetap melanjutkan langkahnya.

            “Tika, aku akan mencarimu suatu saat, aku akan membuat mendungmu layu, aku akan memerlihatkan birunya langit. Jadi, tunggulah aku di mana pun kau tinggal. Karena aku mencintaimu.” Teriakku. Kulihat Tika menghentikan langkahnya beberapa saat, lalu dia berlari semakin jauh, punggungnya terus mengerucut di mataku.

***

            Hujan telah reda, namun mendung tatap berkuasa. Kuminum sisa kopiku, lalu menaruh uang sesuai daftar harga yang kupesan. Beranjak meninggalkan kedai kopi, membuka pintu keluar lalu berhenti, kembali aku menatap langit, menembus awan-awan mendung, aku mencari langit biru. Itu tak pernah ada. Kakiku mulai mengambil langkah menuju tempat yang istimewa.

            “Aku di kotamu kini, akhirnya kita bertemu. Benar katamu, ke mana pun kau pergi, langit selalu mendung. Andai saat itu aku tahu dari awal apa yang terjadi, mungkin di kedai kopi tadi akan terang, meski hujan di luar. Maafkan aku, Tika, aku baru tahu apa yang benar-benar terjadi seminggu yang lalu, dari nenekmu. Kehidupan orangtua memang rumit, dan kau hanya menjadi korban dari mereka. Kenapa kau menceritakanku pada nenekmu? Apa kau mencintaiku? Mungkin saat itu aku berkata konyol padamu, namun percayalah, aku benar-benar mencintaimu. Maafkan aku, semoga kau lelap di sana, di langit biru yang kau harap.”



Aku kembali pergi, pulang menuju kotaku, meninggalkan Tika dengan seikat bunga yang kubawa dari lereng gunung.Tika hanya diam, tak senyum tak menangis, dia terlelap damai dalam tempat barunya. Dalam makamnya.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar