Hujan masih terlambat. Menambahkan waktu
untuk cipta jejak di tempat yang tak asing lagi.
Jalanan yang berangin debu tertinggal beberapa saat lalu.
Langkah-langkah bergerak cepat, untuk memakan waktu
yang disajikan seseorang yang ada di ribuan anak tangga di atasku.
Kau. Perempuan yang kuhubungi melalui jaringan yang menyatu dengan angin. Berlalu-lalang tanpa sebuah penghalang.
Gemetar bibir. Pada awal perbincangan yang dinantikan.
Suaramu perlahan melantun indah dengan hembus napas pelan,
membuat gemetar merambat pada tangan, kaki dan sekujur badan.
Aku siap.
Detik berikutnya kau hanya diam.
Memerhatikan setiap kata yang tertahan sejak jumpa,
masih dengan gemetar dan napas yang tergesa-gesa.
Aku mengudarakan kotak-kotak yang tertanam dalam diri.
Lalu perbincangan itu terhenti. Mati.
Ketika dirimu menanggapi gemetar yang mungkin jelas terdengar.
Memaksa aku mengambil napas panjang.
Dan kata-kata dimulai kembali.
Kini diamlah aku, meresapi setiap kata yang keluar darimu.
Menikmati suara yang membujuk temu.
Lalu semua selesai dengan pertanyaan
yang masih bergelantung bebas di langit luas.
Kau dan aku diam kini.
Dan mataku seperti mencari-cari sedikit jawab
di langit, jalan, dan yang mendengar percakapan ini.
Sepertiga senja aku mengguratkan kepuasan.
Selisih satu anak tangga kini,
aku melihatmu dari belakang.
Kau menjadi lukisan dengan latar cahaya hangat.
-ihsanjarot
Depan Gedung Sate, Bandung.
untuk cipta jejak di tempat yang tak asing lagi.
Jalanan yang berangin debu tertinggal beberapa saat lalu.
Langkah-langkah bergerak cepat, untuk memakan waktu
yang disajikan seseorang yang ada di ribuan anak tangga di atasku.
Kau. Perempuan yang kuhubungi melalui jaringan yang menyatu dengan angin. Berlalu-lalang tanpa sebuah penghalang.
Gemetar bibir. Pada awal perbincangan yang dinantikan.
Suaramu perlahan melantun indah dengan hembus napas pelan,
membuat gemetar merambat pada tangan, kaki dan sekujur badan.
Aku siap.
Detik berikutnya kau hanya diam.
Memerhatikan setiap kata yang tertahan sejak jumpa,
masih dengan gemetar dan napas yang tergesa-gesa.
Aku mengudarakan kotak-kotak yang tertanam dalam diri.
Lalu perbincangan itu terhenti. Mati.
Ketika dirimu menanggapi gemetar yang mungkin jelas terdengar.
Memaksa aku mengambil napas panjang.
Dan kata-kata dimulai kembali.
Kini diamlah aku, meresapi setiap kata yang keluar darimu.
Menikmati suara yang membujuk temu.
Lalu semua selesai dengan pertanyaan
yang masih bergelantung bebas di langit luas.
Kau dan aku diam kini.
Dan mataku seperti mencari-cari sedikit jawab
di langit, jalan, dan yang mendengar percakapan ini.
Sepertiga senja aku mengguratkan kepuasan.
Selisih satu anak tangga kini,
aku melihatmu dari belakang.
Kau menjadi lukisan dengan latar cahaya hangat.
-ihsanjarot
Depan Gedung Sate, Bandung.
0 komentar:
Posting Komentar