Hujan terlambat hari ini. Membiarkanku menyusuri
jalan yang berangin debu, musim yang menjadi rindu,
Aroma dari daun-daun setengah kering,
menyerbak di setiap sudut yang penuh jejakku.
Seseorang tersenyum dengan keterlambatan hujan,
terik mentari seperti oksigen yang menghidupi.
Memperpanjang napasnya untuk dunia yang kelam,
dalam kotak ia mengguratkan kemenangan.
Bersyukur.
Lengan-lengan yang tak lagi kencang,
rambut yang ditinggalkan hitam,
bergerak menyambutku seperti hujan di kemarau panjang.
Hidup di tanah orang, pergi untuk pulang.
Percakapan yang dingin namun menyenangkan,
salah satu korban dari kesejahteraan.
Mengusir waktu yang ia rasa terhenti untuknya.
Kita habiskan sepertiga senja dengan duduk
dan melihat langit timur gelap.
Hujan yang terlambat datang,
mengisi perut anak istrinya.
Tak ada sesiapa lagi di kotak itu,
hanya bapak tua dan puluhan rasa.
Juga seekor anak kucing yang sendiri bermain.
Menerkam plastik yang tergerak angin,
menjadi bahan senyuman aku dan bapak tua.
Mendung mendekat pelan,
cemas mata bapak tua dengan kematiannya hari ini.
Perut anak istri masih belum penuh terisi.
-ihsanjarot
Jl. W.R. Supratman, Bandung.
jalan yang berangin debu, musim yang menjadi rindu,
Aroma dari daun-daun setengah kering,
menyerbak di setiap sudut yang penuh jejakku.
Seseorang tersenyum dengan keterlambatan hujan,
terik mentari seperti oksigen yang menghidupi.
Memperpanjang napasnya untuk dunia yang kelam,
dalam kotak ia mengguratkan kemenangan.
Bersyukur.
Lengan-lengan yang tak lagi kencang,
rambut yang ditinggalkan hitam,
bergerak menyambutku seperti hujan di kemarau panjang.
Hidup di tanah orang, pergi untuk pulang.
Percakapan yang dingin namun menyenangkan,
salah satu korban dari kesejahteraan.
Mengusir waktu yang ia rasa terhenti untuknya.
Kita habiskan sepertiga senja dengan duduk
dan melihat langit timur gelap.
Hujan yang terlambat datang,
mengisi perut anak istrinya.
Tak ada sesiapa lagi di kotak itu,
hanya bapak tua dan puluhan rasa.
Juga seekor anak kucing yang sendiri bermain.
Menerkam plastik yang tergerak angin,
menjadi bahan senyuman aku dan bapak tua.
Mendung mendekat pelan,
cemas mata bapak tua dengan kematiannya hari ini.
Perut anak istri masih belum penuh terisi.
-ihsanjarot
Jl. W.R. Supratman, Bandung.
0 komentar:
Posting Komentar