Daun masih terbungkus embun.
Sebab malam datang-hilang.
Tinggalkan sisa pada apa saja.
Bangku taman, kaca jendela, aku.
Aku.
Antara sebab dan sisa dari malam.
Segigit pagi ini.
Tak ada manis-pahitnya rasa.
Hanya menerka.
Yang tiada, yang diada-ada.
Segigit pagi ini.
Hambar...
Kelu tak pernah pergi dari arang.
Hati tak pernah menggarang.
Kusisakan sisa pagi seperti malam meninggalkanku.
Membiarkan berserak, berantak.
Lalu menunggu pagi yang lain.
Tuk sebuah suap yang tawar.
Atau menunggu seorang tangan oleskan selai.
-ihsanjarot
0 komentar:
Posting Komentar