ihsanjarot


Kesedihan adalah hal yang harus dijujurkan, bukan untuk disamarkan atau bahkan dihalangi. Rayakanlah kesedihan sebagaimana merayakan perasaan-perasaan kita yang lain.

***

Hi, sudah lama aku tak menjamah sebagian diriku di blog ini. Apa kabar kau, siapapun yang membaca tulisanku ini? Semoga dalam keadaab yang diharapkan.

Kali ini aku ingin menulis perihal waktu, perayaan dan kesedihan. Malam ini aku menangis, sebab ada sesuatu yang membawaku untuk kembali ke titik di mana aku seharusnya menangis. Aku takkan menceritakan perihal penyebab aku menangis, aku hanya akan membicarakan tentang kenapa kita harus merayakan kesedihan.

***

Waktu. Suatu hal yang biasa perihal waktu. Namun aku selalu heran, kenapa ada beberapa orang yang ingin memutarnya, entah untuk kembali atau untuk mengintip masa depan. Kawanku pernah bertanya,

"Jika kita bisa memutar waktu, ke mana kau akan pergi? Masa lalu atau masa depan? Dan jika kau memilih masa lalu, adakah hal yang ingin kau ubah untuk keadaanmu sekarang?"

Aku lama berpikir, dan memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana, meskipun nantinya bisa untuk menjadi time traveller, namun aku takkan ke mana-mana.

Aku tak ingin pergi ke masa depan hanya untuk mengintip jadi apa nanti aku di sana. Menurutku itu hanya melahirkan ketakutan-ketakutan yang lebih besar dan kau tak menikmati waktu sekarang. Masa depan, biarlah jadi kejutan. Dan aku tak ingin kembali ke masa lalu dan memperbaikinya, aku tak ingin ada yang berubah dari aku yang sekarang karena aku cukup menikmatinya.

Ok, dan tentang keterkaitan waktu dan kesedihan. Ini dua hal yang berbeda namun sangat terkait. Entahlah untukmu, namun untukku waktu adalah hal yang bengis. Sebab waktu kadang membawa hal yang sudah kita buang jauh namun dikembalikan begitu saja. Dan hal yang selalu dibawanya adalah kesedihan. Kita seolah sesuatu yang tiba-tiba tertiban akan kesedihan yang lalu.

Brak!

Mungkin akan terdengar demikian jika hal-hal yang dikembalikan pada kita oleh waktu berbentuk wujud.

***

Kesedihan adalah hal yang harus dirayakan menurutku. Bukan untuk dimusnahkan atau ditolak mentah-mentah. Jika ada momen yang mengharuskan kita untuk bersedih, maka bersedihlah. Jangan berpura-pura atau mengabaikannya. Nikmatilah setiap dari potongan kesedihan yang kau miliki. Tentang apapun itu.

Aku sangat banyak menulis dengan tema kesedihan dalam banyak karya tulisku. Sebab, menurutku kesedihan harus diabadikan yang nantinya jadi pengingat saat kita menghadapi situasi yang sama, atau malah untuk ditertawakan di kemudian hari sebab kita bersedih akan hal yang menurut kita lucu nantinya.

***

Malam ini, siapapun kau, di mana pun kau, jika sedang bersedih, bersedihlah, menangislah. Kau baik-baik saja untuk tidak baik-baik saja.



Bandung,
13 September 2020

Pernahkah kau merasa menjadi seorang yang asing? Kesepian? Seolah kau tidak dapat menyatu. Jika kau mencoba untuk membaur, kau kehilangan dirimu dan jika kau menjadi dirimu kau tidak menemukan siapa-siapa. Apa yang kau rasakan? Aku sedang merasakannya saat menulis catatan ini.

Aku menjadi seorang yang asing di sini, di tempatku lahir. Kadang aku dijadikan tamu, kadang aku diperlakukan tidak sama seperti orang lain yang kukenal, dan seringnya, aku merasa kesepian.

Saat menulis ini, aku banyak mengulangi lagu Sting 'Englishman in New York.'

I'm an alien
I'm a legal alien
I'm a Englishman in New York

Ya, aku seolah alien di planet bumi. Menjadi asing dan sepi. Kau tahu? Kadang aku tak bisa membedakan sebuah pulang dan pergi. Hal yang sangat tipis bagiku. Sampai sekarang.
Hai, selamat waktumu saat membaca ini. Dan entah kita saling tahu atau dalam lingkaran yang dipenuhi rasa menerka-nerka.

Saya sebenernya tak punya cerita yang menurut saya menarik belakangan ini. Karena saya sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang dirasa wajib untuk saya tuntaskan secepatnya. Saya hanya rindu menulis, sangat rindu. Beberapa puisi saya tulis, namun saya merasa belum terbebas rasa puisi itu, terlalu dipaksakan. Semoga setelah urusan ini selesai, saya bisa menulis lebih rutin dan lebih baik.

Saya juga sedang merindukan seseorang. Beberapa menit yang lalu saya baru saja mengunjungi blognya, namun belum ada tanda-tanda dia ada, postingan terakhirnya saja sudah dua tahun yang lalu. Namun di beberapa media sosial lain, saya lihat dia sedang berpetualang lagi. Dengan vespa biru. Dia orang yang bebas menurut saya. Berlari kesana kemari, berpetualang, dan semoga dia bahagia melakukan itu.

Aaaah, sungguh, saya sedang bosan beberapa waktu belakang karena mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Saya juga ingin berpetualang. Pergi menaiki kereta menuju tempat-tempat yang saya belum jamah. Oh iya, meskipun ini menurut saya memalukan tapi ini benar adanya. Saya belum pernah naik kereta, saya belum pernah bepergian melebihi Jawa Barat. Ya paling jauh pun mungkin hanya ke Tangerang. Apakah saya kampungan? Menurut saya iya, hahaha.

Saya punya rencana jika saya sudah bebas dari tugas ini. Saya ingin bepergian ke beberapa kota. (Jika dari kalian ada yang mau bergabung dengan saya, saya sangat senang), kota pertama yang saya ingin tuju adalah Yogyakarta, saya ingin pergi ke sana sudah dari lama. Dan saya ingin menemuinya, membereskan urusan yang menurut saya belum selesai. Mungkin saya akan bersedih pada akhirnya. Kemudian mungkin saya akan ke Solo, pertama, ada sebuah acara di sana yang beberapa waktu lalu saya ikut berpartisipasi (saat itu diadakan di Bandung), jadi kali ini saya ingin melihat acara itu.

Lalu saya ingin pergi ke laut. Entahlah, meskipun saya kurang suka, namun beberapa waktu ini saya merindukan aroma pantai. Camping di daerah pantai dan membuat api unggun, yah itu terlalu mainstream namun itulah hal luar biasanya bukan? Tapi yang paling dekat yang saya ingin kunjungi adalah taman kota, di sini, di Bandung. Saya biasanya hanya duduk-duduk saja sambil menulis, biasanya saya lakukan di beberapa taman, Taman Cikapayang, Taman Lansia, atau di trotoar Braga (ah yang terkahir saya rasa bukan taman).

Eh, tapi jika berbicara jalan Braga, pernahkah kalian pergi ke Braga untuk melihat matahari muncul di sana? Jika belum, cobalah, dan saya sarankan untuk pergi bukan saat hari libur. Di sana menyenangkan, tidak seperti saat sore sampai larut malam, ada sisi lain yang saya temukan di sana saat pagi buta.

Baikla, mungkin saat ini itu saja yang ingin saya tulis. Doakan saya agar lancar dengan urusan yang sedang saya jalankan ini. Saya pun mendoakan kalian agar tetap menjadi semestinya yang sesuai dengan jalan kalian masing-masing. Terima kasih telah membacanya, sampai jumpa di lain kesempatan.

Hai, selamat waktu apapun saat kau sedang membaca ini.

Kali ini saya akan bercerita mengenai buku kumpulan puisi saya (masih calon). Saya beri judul "Luka Laki-Laki yang Tak Bisa Lari dari Lara", terlalu panjangkah? "Luka Laki-Laki" saja jika begitu. Kenapa saya beri judul demikian? Saya akan menjelaskannya secara singkat dan jelas  nanti.

Buku ini saya buat karena ada hal yang terjadi yang mengubah hidup saya, cara pandang serta pemikiran. Judul buku yang saya pilih pun adalah sebuah pengekspresian saya pribadi, karena saya masih berpikir bahwa puisi itu adalah kejujuran.

***

Ini tentang Tiga,
seseorang yang berdiri di antara nyata dan maya.

Saya menyebutnya Tiga. Karena memang di antara namanya ada nama yang mengartikan "tiga", namun dia tidak mau disebut dengan nama tiga.

Dulu, saya mengenal Tiga saat dia masih SMA. Hanya statusnya saja yang serupa. Untuk yang lain, saya rasa dia lebih seperti seseorang yang bukan anak SMA.


Percayakah kau jika Tiga memberi saya mata dan kepala?


Itu hanya kalimat perumpamaan namun memang nyata. Setelah "bertemu" dengan Tiga, saya bisa melihat dan berpikir. Sebelum bertemu dengannya saya memang bisa melihat dan berpikir, namun tidak dengan seperti ini. Ada hal lain yang terjadi. Ada sudut pandang dan pemikiran yang terbuka saat setelah saya "bertemu" dengan Tiga.

Jatuh cinta

Sungguh klise. Setiap manusia yang mengalami jatuh cinta pasti juga sering berkata, "Kau mengubah hidupku.", saya pun demikian namun itu memang benar adanya.

Saya jatuh cinta, namun jatuh cinta dengan cara berbeda.

Apakah kau pernah jatuh cinta tanpa pernah menatap mata orang yang kau cintai?


Saya mengalaminya. Anehkah? Untuk saya sendiri ini terlihat aneh dan mungkin tidak wajar. Ini tidak terjadi begitu saja. Ada hal lain yang membuat ini terjadi.


Karena Tiga memberi mata dan kepala pada saya.


Namun setiap rasa yang saya miliki tidak pernah tersampaikan. Tidak ada balasan serupa dari Tiga. Saya menggenggamnya sendiri, saya mencengkramnya sendiri, saya memilikinya sendiri.

Pada akhirnya, sampai saat artikel ini ditulis, saya tetap dengan perasaan yang sama. Dan sendiri.

Dalam buku ini saya tuliskan puisi-puisi saya tentang Tiga, tentang luka. Tentang saya yang tak mampu menyatakan kemayaan dan tentangnya yang tidak pernah melihat dan menganggap saya nyata.

"Luka Laki-Laki yang Tak Bisa Lari dari Lara" adalah representasi dari perasaan yang sialnya nyata dan terjadi pada saya.


***


Buku ini mungkin hanya berisi kemarahan atas ketidakbecusan saya, kemarahan atas ketidakadilan yang saya rasakan, kesedihan saya yang mengakar serta kesedihan atas hancurnya sebuah harapan.

Saya di sini bekerja sama dengan beberapa pihak untuk buku ini. Saya meminta bantuan terhadap teman saya Fiani R. dan larunglimaluka untuk isi serta komposisi dari buku ini. Juga desain sampul yang saya kerjakan bersama FarouqArt Vector. Untuk penerbitan saya masih mencari pihak-pihak penerbit yang memang sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Mungkin itu saja yang saya ingin sampaikan dalam artikel kali ini. Terima kasih untukmu yang bersedia meluangkan waktu untuk sekadar membaca artikel saya. Saya juga meminta doa dan support darimu agar buku ini bisa terbit dan lahir dengan selamat dan lancar. Aamiin.

            Tali sepatuku telah terikat, tas ransel sudah cukup berat, aku berdiri di depan pintu sebelum berangkat, pintu yang tak bisa kunamai, pintu masuk atau pintu keluar? Aku tak bisa memilih salah satunya. Pintu tanpa nama.

            Suasana hening selalu tersaji saat aku akan memulai perjalanan. Pintu-pintu kamar tertutup rapat, dikunci, sama dengan mata mereka yang kelelahan setelah semalaman dipaksa terbuka hanya untuk saling melotot atau menangisi keadaan.

            Aku melangkah menuju pintu pagar. Kulihat seorang suami sedang mengecup kening istrinya. Di rumah lain, kulihat sepasang suami istri yang lain sedang menggenggam kedua tangan kecil anaknya yang sedang belajar berlari. Aku menatap dengan ribuan rasa iri. Nafasku terasa berat, aku berangkat.

***

            Kakiku menginjak kota yang juga tak bisa kunamai ini. Kota perantauan atau kota kepulangan? Aku tak bisa memilih salah satunya. Kereta yang kutumpangi tadi telah berangkat lagi, mungkin akan pulang atau pergi? Tunggu dulu, aku menemukan nama untuk pintu dan kota ini. Pintu kereta, kota kereta. Entah itu pergi atau kembali, keduanya seperti sama saja.

Aku berjalan keluar dari stasiun, menaiki ojek yang menunggu penumpang tiba.

“Baru pulang, Mas?” Kata tukang ojek itu sembari memberikan salah satu helmnya padaku.

“Tidak tahu, Pak, saya tak yakin bahwa saya baru pulang, saya juga tak yakin bahwa saya sedang pergi,” kataku sembari memakai helm.

Tukang ojek itu menatapku sebentar, kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Masnya buat saya bingung saja, mari, Mas, silakan naik,” katanya sembari menepuk-nepuk jok motornya. Menyuruhku untuk duduk.

Sesampainya di jalan kecil menuju tempatku tinggal di kota kereta ini, aku memberikan kembali helm yang dipinjamkan oleh tukang ojek itu sembari memberi satu lembar uang dua puluh ribu.

“Terima kasih, Pak,” kataku.

“Sama-sama, Mas,” jawabnya singkat.

Mas, Mas ... ,” tukang ojek itu memanggilku yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.

“Ada apa, Pak, apa ongkosnya kurang?” Tanyaku sembari tangan kananku memasuki saku kemeja.

“Tidak, bukan itu, Mas,” sanggahnya.

“Lalu?” Tanyaku lagi.

“Anggaplah kota ini sebagai rumah, nanti Masnya juga akan betah jika sudah terbiasa.” Kemudian tukang ojek itu memacu sepeda motornya meninggalkanku. Sejenak aku memikirkan apa yang tukang ojek itu katakan kemudian tersenyum heran.

Rumah?

***

Besok malam, takbir akan berkumandang di seluruh mesjid di sini. Sebuah seruan yang mengartikan kebahagiaan, kemenangan, keagungan dan pemujaan kepada Tuhan. Namun itu menurut mereka, menurutku takbir ini adalah sebuah kata yang mengusirku dari kota ini, memaksaku untuk berangkat kembali, menyuruhku untuk memasuki pintu kereta lagi.

Suasana di stasiun sangat ramai, calon penumpang memenuhi setiap ruang di sini, para petugas sibuk mengurusi nasib-nasib orang lain, sedang mereka sendiri tak sadar sedang ditunggu oleh keluarganya.

Aku memasuki gerbong kereta, duduk di dekat jendela. Kursi di sebelah dan di hadapanku diduduki oleh satu keluarga kecil. Ayahnya duduk di sebelahku dengan memangku anak laki-lakinya yang masih balita, sedangkan di hadapanku duduk ibunya, dan di hadapan ayahnya duduk putri mereka yang sudah remaja. Di mata orangtuanya terpancarkan rasa bahagia, sedangkan di tatapan putri mereka, matanya tampak biasa. Sama sepertiku, tidak seantusias mereka yang memang memelihara rindu dengan baik.

Setengah perjalanan telah terlalui, kulihat ibu dari keluarga itu sedang memangku anak balitanya yang tadi dipangku sang ayah, putri mereka sedang terlelap, mungkin kebosanan, sang ayah sendiri sedang memakan makanan yang mungkin tadi mereka beli di stasiun.

“Makanannya, Dek,” ucap sang ayah menawarkan sebuah keripik pisang padaku.

“Terima kasih, Pak, saya masih kenyang,” jawabku.

Sang ayah tersenyum sembari membuka plastik yang membungkus keripik pisangnya.

“Sudah lama, Dek, tinggal di Jakarta?” Tanyanya.

“Sudah lima tahun, Pak,” jawabku.

“Sudah lumayan juga, gimana, Dek, sudah betah di Jakarta?” Tanyanya lagi.

“Sepertinya sudah, Pak,” jawabku singkat.

“Jangan terlalu betah di sana, Dek, pada akhirnya kita harus pulang ke kampung halaman, pulang ke rumah,” katanya.

“Saya sudah lebih dari dua puluh lima tahun di Jakarta, saya kira saya sudah siap untuk meninggalkan kota itu sekarang. Sehabis lebaran nanti, saya dan keluarga akan menetap di rumah kami, di kampung, tidak lagi ke Jakarta,” sambungnya.

Oh, kenapa begitu, Pak?” Tanyaku.

“Banyak orang yang beranggapan bahwa dengan pergi ke Jakarta atau ke kota besar lain, kita bisa dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan digaji besar, padahal sebenarnya itu hanya bayangan saja, jika dipikirkan lagi sekarang, mungkin hal itu ada benarnya, namun tak semuanya benar,” jawabnya.

“Maksud bapak?” Tanyaku lagi.

“Ya, jika dirasa sudah cukup mendapatkan uang langsung pulang saja, dijadikan modal usaha di kampung, hidup enak, tidur di tanah sendiri, lalu melihat anak-anak saya besar dan mungkin mereka pun akan pergi seperti saya atau adek sendiri.” Bapak itu tersenyum padaku, seperti sedang memberikan nasihat untuk berhati-hati dengan kota keretaku.

“Begitu ya, Pak, terima kasih atas nasihatnya.”

Aku menatap jendela kereta yang melukiskan lampu-lampu kota yang asing, kota yang menjadi rumah untuk orang-orang lain, kota yang menjadi persinggahan dan pengaduan nasib untuk sebagian orang yang lain. Kota memang asing.

***

Aku sudah berada di pintu pagar yang tak asing, di dalamnya kulihat pintu kereta tertutup rapat. Tidak ada penyambutan, tidak ada ucapan selamat datang. Kulihat rumah-rumah sekitar sudah ramai oleh kendaraan-kendaraan berplat kota lain.

Kubuka pintu keretaku itu, sangat hening. Kulihat pintu-pintu kamar masih tertutup rapat. Kulangkahkan kakiku menuju belakang bangunan ini, diruang makan sangat berantakan, pecahan piring dan gelas, tudung saji yang berada di posisi yang jauh dari makanan, tergeletak terbuka di dekat jalan menuju kamar mandi, meja makan sendiri kulihat tak sebersih lantai, butir-butir nasi yang berantakan, juga dengan lauk yang seperti bernyawa, berjalan sendiri dari piring sajinya.

Kuhela napas panjang. Apakah ini sebuah pulang?

***

            Takbir telah berkumandang. Kuintip dari jendela kamar, orang-orang berkeliling kampung dengan membawa microphone dan beduk sembari menaiki mobil bak terbuka. Anak-anak kecil mengikuti di belakangnya dengan mengayuh sepeda mereka. Untuk malam ini, anak-anak kecil itu terbebas dari jam malam.

            Di luar kamarku, kudengar suasana lebih ramai dari waktu tadi saat aku datang ke sini ataupun sebelum aku berangkat dari sini. Suara dengan nada-nada tinggi, suara dari hasil benturan benda-benda dari kaca dengan lantai keramik, suara dari hasil pertemuan yang cepat antara telapak tangan dan kulit pipi, dan suara-suara dengan bahasa yang seharusnya tak kuhafalkan selama ini.

            Aku memasangkan headset di telinga, manambahkan volume suara dari handphoneku. Memutarkan lagu-lagu yang tidak kalah keras dengan suasan di luar kamarku. Mataku sedang mencari hal-hal yang bisa menenangkan semua ini, pelamunan. Sampai akhirnya tatapanku berhenti di sebuah foto yang sudah kusam, foto berukuran sebesar amplop, berbingkai putih, dengan kacanya yang sudah retak, hasil dari gebrakanku saat aku datang ke sini terakhir kali.

            Kuambil foto itu, melihatnya dengan seksama, kulihat dalam foto itu aku sedang tersenyum bebas, ayahku menggendongku di pundaknya, ibuku berada di samping ayah sembari memegangi bagian belakang tubuhku, agar aku tak jatuh. Mataku meneteskan kesakitan, tanganku bergetar, cengkramanku pada bingkai foto itu semakin kuat, dadaku sesak, musik yang sedang kudengarkan seperti menghening secara perlahan, memoriku akan masa lalu seperti dibakar.

            Braaak

            Kulempar foto itu dengan kuat, membentur dinding. Kaca yang tadi retak sudah tak ada, berubah menjadi serpihan beling yang tajam, bingkai yang putih tadi tergores dan pudar sebagian, bahkan patah, fotonya tidak apa-apa, masih utuh dalam satu lembar, masih pudar seperti semula. Headset yang menempel dikupingku kucabut, handphone di sebelahku nasihnya sama seperti foto dan bingkainya.

            Kuambil bantal, kututupi kepalaku dengan bantal itu dengan kuat, berharap tak mendengar apa-apa lagi. Mataku masih belum berhenti mengeluarkan kesakitan, mulutku seperti ingin menjerit namun tertahan sesuatu.

***

            Aku terbangun dengan dipaksa orang lain.

            “Bangun! Bangun!” Teriak seseorang berseragam yang tak kukenal.

            Aku berlari, berteriak histeris, memukul siapa saja yang mendekatiku.

            Dan, izin untuk memborgolnya,” kata orang yang tadi membangunkanku.

            “Silakan, angkut semua orang gila ini, kita nanti masukkan ke panti-panti atau penampungan,” ucap seseorang yang lain yang sama-sama memakai seragam.

            Aku terus memberontak kepada mereka hingga pada akhirnya mereka menambah beberapa orang untuk menangkapku. Lalu menjebloskanku ke mobil truk. Entah ke mana aku pergi sekarang. Kursi yang ditaruh di bak truk ini sudah dipenuhi orang-orang yang bernasib sepertiku.

            Mereka membawaku sangat jauh dan berhenti di tempat entah berantah, aku sudah tak bisa memahami apa yang ditulis di papan dekat gerbang masuk tadi. Kulihat beberapa orang dengan seragam berbeda menyambut kami. Menyuruh kami berjalan, memasuki bangunan besar dengan banyak orang-orang yang bertingkah tak wajar di halaman depannya.

            Setelah beberapa lama, aku dibawa ke ruangan terbukan, pakaiankuy semua dilucuti sampai aku tak mengenakan apa-apa, orang-orang berseragam yang tadi menurunkanku mengguyurkan air ke seluruh badanku.

            “Sekarang kalian boleh tinggal di sini, jangan takut pada kami, anggap ini rumah baru untuk kalian, kami akan bantu kalian semampu kami,” kata orang berseragam itu kepadaku sambil tak henti mengguyurkan air pada badanku.

            “Rumah?” Aku menatap orang itu dengan heran.

            “Iya, sekarang ini rumahmu, kau akan baik-baik saja,” jawabnya sambil tersenyum.

            Aku tersenyum menirukan orang itu, entah kenapa mataku mengeluarkan sesuatu, seperti air, namun rasanya tak sama denga air yang orang itu guyurkan padaku. Air ini seperti sangat berharga, seperti sesuatu yang keluar dari langit, memberikan cahaya kepadaku.

            Entah kenapa aku memeluk orang itu dengan senang.

            “Rumah, akhirnya aku punya rumah, akhirnya aku pulang,” teriakku girang.

            “Iya, kamu sudah pulang sekarang, kamu harus menjaga sikap di sini, sebelum kamu senang, kita bereskan dulu mandimu ini,” jawabnya.

            “Aku pulang, aku pulang, aku pulang.” Tak henti-henti aku berteriak senang.



- SELESAI -
Bandung
2018


Di suatu pagi yang masih dini, ketika cahaya jauh dari matang, titik di mana mimpi dan kenyataan sejajar, ia terlahir dengan tangisan. Hanya tangisan, tidak ada kebahagiaan. Air matanya jatuh dari mata air lahiriah. Di balik selimut yang bukan untuk mengusir dinginnya pagi, ia bersemayam. Metamorfosis.

Namanya Je, seorang laki-laki yang mencoba berteman dengan dunia dan realita. Dahulu, sebelum dia terlahir, dia adalah pemimpi dan penanti yang setia. Juga pembohong ulung. Dia pandai menyembunyikan segala resah dari dunia dan realita.


***

"Hai, pagi yang belia, saya pulang."

Dia hempaskan tubuhnya pada ranjang yang dia anggap sebagai ibu dan jelmaan pagi. Kepalanya dikunjungi pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja. Sampai biasanya tamu-tamu di kepalanya itu pulang ketika cahaya sudah menggaris di langit barat.

"Bolehkah pagi ini saya menutup diri dari tamu-tamu itu?" Dia mengangkat dirinya sendiri, terduduk di ranjang kemudian menyalakan sebatang tembakau manis yang dibungkus sehelai kertas putih. Asap keluar dari mulut dan lubang hidungnya. Nafasnya menjadi berat, matanya sayu menatap kamar yang gelap.

"Ibu, haruskah saya mengenali dunia ini?" Tanyanya.

Tidak ada jawaban. Kamarnya masih sunyi. Dan akan terus sunyi.

Dia berpindah ke meja dan laptop yang masih menyala. Mengikat rambutnya kemudian jari-jari tanganya bersuara. Yang dia yakini ibunya, pagi yang dini, adalah sosok yang bisu dan tuli, namun tidak buta. Maka, segala perasaan yang ingin ia sampaikan ditulisnya di lembar-lembar kertas atau diketik pada lembar-lembar digital.

"Ibu, saya meresahkan diri saya sendiri di sini. Ketakutan, kesakitan. Apa anakmu ini akan baik-baik saja?"

Jarinya terus bersuara sampai dia tersadar ibunya telah dininabobokan sinar yang menggurat horizontal dari barat. Ia tersenyum kecil, namun matanya berkaca-kaca.

"Saya kembali menjadi pura-pura."

***

Di pagi belia yang lain, Je terus bersenandung. Menadakan luka-luka serta keresahan yang mendiami kepala dan dadanya. Tak jarang air matanya jatuh, atau malah dia tertawa getir.

"Ibu, saya menjadi gila, sedari tadi saya bermain di atas luka-luka yang mulai mengering. Saya membasahinya lagi agar kembali wangi, namun kini saya menderita," ucapnya.

"Saya menertawakan diri saya sendiri yang sedang menjerit dan menangis. Saya juga menangisi diri saya sendiri yang masih bisa tertawa."

"Ibu, bolehkah saya kembali melihat cerita itu? Cerita yang sudah kau tutup rapat tentang saya."

Dia membenamkan kesadaranya secara paksa, sampai akhirnya dia terlelap juga. Kelelahan meluka.

Dalam lelapnya, dia memimpikan sesosok perempuan dengan wajah sebuah suasana di pagi yang terlalu dini. Sepi. Perempuan itu mempersilakan kepala Je untuk terjatuh di pangkuannya.

"Je, kau itu baru tunas," ucap perempuan itu sembari membelai-belai rambut Je yang panjang.

Je tidak mengekspresikan apa-apa. Dia merasa betah dipangku perempuan itu.

"Kau terlahir karena dirimu sendiri. Kau ada karena ketulusanmu. Dan kelak, kau akan mati karena penantianmu." Perempuan itu menatap Je dengan khidmat.

Je mulai menangis pelan, kini ia menjadi bisu namun tidak tuli dan buta. Bibirnya terkunci, kehendaknya untuk membantah tak bisa keluar.

"Je, nanti akan ada waktu di mana kau akan mengetahui ceritamu lagi. Bukan dari bibir yang sedang bicara ini. Tapi kau sendiri yang akan menemukan kepingan-kepingan kisahmu sebelum lahir, sebelum mati."

Je terbangun dari lelapnya. Itu hanya mimpi, pikirnya, namun di sudut matanya pikiran itu terbantahkan. Ada jejak di sana, dan ada sesuatu yang lain, yang sedang menunggunya untuk kembali.
Hai, selamat dini hari.

Hari ini, saya hanya akan bercerita mengenai apa yang saya lakukan di dunia nyata untuk beberapa hari terakhir.
Baiklah, semoga kalian menikmatinya.

Saya sedang sakit hati. Sangat sakit hati.
Itu yang sedang saya rasakan untuk beberapa hari ini. Saya sedang memulai sesuatu yang menyangkut perasaan, namun di lain pihak sesuatau itu tidak pernah dan tidak akan terjadi. Saya merasa tidak memulai apa-apa untuk ini semua.

Awalnya saya kaget mendengar berita tersebut dari seorang teman yang sangat baik. Sangat kaget sampai merasa tak percaya dengan yang memang benar-benar terjadi.

Saya ingin bertanya pada kalian,
"Apakah mengambil keputusan besar memerlukan waktu yang sedikit?"
Mungkin dari kalian ada yang berpendapat tidak atau juga iya.
Tapi untuk hal ini, menurut saya sendiri adalah tidak. Mengambil sebuah keputusan besar apalagi terkait dengan masa depan menurut saya perlu lebih banyak waktu. Setidaknya untuk mendengarkan pendapat dari orang-orang terdekat.

Apa saya salah bila masih berharap?
Untuk saat ini dan pikiran beberapa akhir ini saya merasa tidak ada salahnya. Tapi jika dilihat dari kenyataannya dan beberapa masukan dari orang-orang terdekat saya, untuk apa berharap? Toh ini semua sudah pasti. Yang tidak pasti sendiri hanyalah saya. Hanya saya.

Saya sedang dilanda kekacauan. Pikiran dan perasaan. Saya bisa gila dengan ini semua.

Mungkin itu yang ingin saya bagi pada kalian sekarang. Namun, saya mencoba mengakali ini semua dengan beberapa hal, membuat kerajinan, menggambar dan satu lagi. Saya sedang menulis beberapa puisi untuk dijadikan sebuah buku. Itu target saya tahun kemarin, sebenarnya sudah ada beberapa yang saya tulis. Namun karena hal ini terjadi, saya merubah semua konsep. Jadinya saya ulang dari awal. Doakan saja agar segera terjadi. Dan jangan lupa, jika sudah jadi harus beli. Saya usahakan agar pantas dinikmati untuk kalian.

Sekian dari saya.



ihsanjarot