ihsanjarot

Rangkuman Malam Kemarin

Leave a Comment
Bahagia datang atas kehendaknya sendiri. Bukan dipesan lalu ada, dan pergi begitu saja. Bahkan sebelum masuk rumah. Aku bukan termasuk orang-orang yang tangannya terus menerus berdoa harapkan bahagia tiba. Hanya menanti keberuntungan yang datang, lalu kuperlambat kepulangan.

Malam kemarin adalah ketika aku terbang dan seketika jatuh saat hendak sentuh awan. Tak ada sayap, tak ada parasut. Gravitasi menolakku sementara, lalu menarikku dengan kuat. Tidak adil. Saat aku menuju seribu senyum dan sulit lelap, aku dihempaskan ke dalam jurang paling dalam. Meski masih sulit lelap, tapi bukan sebab senyum. Takut. Aku takut tertinggal.

Malam kemarin adalah tentang membagi hati lalu disimpan di meja makan, untukmu. Namun beberapa saat dicuri hewan-hewan pengerat. Berantakan. Makan malam yang hening, hanya suara hidung yang berusaha menarik kembali luka. Dan mata yang lembap menahan kucuran airmata.

Bahagia datang atas kehendaknya sendiri. Waktu adalah musuh terbesar baginya, karena waktu seolah berlari lebih cepat saat bahagia tiba. Tidak adil. Lara adalah satu-satunya yang berpihak pada detik, menit, jam, hari dan anak-cucu waktu yang lain. Di mana ada bahagia, di sana waktu tiada.

Malam kemarin adalah kesialan yang penuh kutukan. Dan kesempatan datang tidak berpihak pada waktu. Tidak berpihak padaku. Senandung-senandung sendu jadi nyanyian tidur. Lirih, seseorang dari entah menyanyikan kata-kata melankolis setiap aku menghela panjang napas. Tidak adil. Malam kemarin seharusnya tidur ternyenyak dalam sebulan waktuku.

Malam kemarin adalah musibah.
Malam sekarang adalah malam kemarin.
Malam esok adalah malam hari ini.
Dan malam-malam yang lain menyiapkan beberapa kutukan.



Aku akan terjaga sampai malam dipaksa tiada.
Bersabar untuk perdamaian waktu dan bahagia.
Menanti kesempatan yang datang terlalu pagi.
Menanti darimu sepotong hati.

-ihsanjarot
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar