Helai-helai rambut jatuh bertemu mata, menghalangi pandang dunia. Kusibakkan lalu diikat, langit gelap tetaplah sama. Tak ada merah keemasan atau nila. Semua tetap setia dalam gelapnya, semua orang masih betah dalam lelapnya. Rasi bintang benar-benar hilang sekarang. Rembulan? Jangankan purnama, setitik sinarnya pun tak kuat menembus awan. Tak ada sesiapa, hanya rautmu yang tak bergerak digoyah waktu.
Cangkir-cangkir kosong, kretek-kretek terkulai bertemu ajalnya. Sisa dari gulita hanyalah aku dan suara detik-detik jam yang terasa semakin nyaring. Rautmu tetap tak bergerak. Seperti seharusnya. Kau tetap cantik tanpa sesiapa. Kau menawan tanpa rembulan. Kau bersinar tanpa rasi bintang.
Aku hidup dengan lelap yang tak pernah disuguhkan gelap. Napas panjang adalah jeda antara nelangsa dan harapan, antara raut wajahmu dan kegilaanku, antara cinta dan asa, dan antara jeda itu sendiri. Doa dan sebuah nyata berjarak sangat jauh. Seperti aku, sepertimu.
-ihsanjarot
Cangkir-cangkir kosong, kretek-kretek terkulai bertemu ajalnya. Sisa dari gulita hanyalah aku dan suara detik-detik jam yang terasa semakin nyaring. Rautmu tetap tak bergerak. Seperti seharusnya. Kau tetap cantik tanpa sesiapa. Kau menawan tanpa rembulan. Kau bersinar tanpa rasi bintang.
Aku hidup dengan lelap yang tak pernah disuguhkan gelap. Napas panjang adalah jeda antara nelangsa dan harapan, antara raut wajahmu dan kegilaanku, antara cinta dan asa, dan antara jeda itu sendiri. Doa dan sebuah nyata berjarak sangat jauh. Seperti aku, sepertimu.
***
Rautmu tetap tak bergerak, seperti seharusnya. Aku mencintaimu dalam diam, aku mengharapkanmu sebelum dan sesudah lelapku datang.
-ihsanjarot
0 komentar:
Posting Komentar